Empathy Gap


Sebagian besar caprukan ini terinspirasi dari buku ‘Do Nothing!’ karya J. Keith Murnighan yang belum selesai saya baca dan pengalaman pribadi tentunya.

Murnighan cerita dalam bukunya bahwa setiap kita pasti mengalami Empathy Gap. Contohnya Waterboarding, metode interogasi yang biasa dilakukan CIA (itu loh yang ada di pelem Safe House, yang ada Denzel Washington dan Ryan Reynolds; Yes, saya nonton yang ini!!). Metode ini kebilang berhasil dalam ngorek info dari pihak luar. CIA pasti sangat amat mendukung diperbolehkannya metode ini untuk menginterogasi tahanan. Tapi, tentu ada yang kontra dengan metode ini. Mungkin yang pernah tenggelam (dan selamat untuk bisa berbagi pengalamannya) dan kena si waterboarding, akan bilang kalau ini penyiksaan yang menimbulkan trauma. Bahkan untuk yang pernah tenggelam atau kena si waterboarding saja, Murnighan bilang masih ada Empathy Gap. Kenapa? Karena menurutnya dunia ini bias. Warna kuning yang saya lihat belum tentu sama dengan kuning yang kalian lihat. Rasa brokoli yang saya makan belum tentu sama dengan rasa brokoli yang kalian makan. Kira-kira seperti itu ya, heu.

Saat ada teman yang cerita tentang masalahnya, sekeras apapun saya berusaha menganalogikan-membayangkan-merasakan apa yang dia lalui; Tidak akan pernah saya bisa merasakan sama persis seperti yang dia rasakan. Oleh karena itu, tentunya membesarkan hati adalah hal yag paling mudah untuk dilakukan disamping berusaha berdiskusi tentang solusi yang mungkin dilaksanakan (membantunya melihat lebih jelas permasalahan yang ada dan memperingan bebannya). Walaupun ada yang tidak suka bagian diskusi solusi ya, mungkin hanya ingin curcol saja karena setiap diberi opsi malah ngetewel. Hahaha..

Satu lagi, tentang humor. Siapa sih yang tidak suka dengan pribadi humoris. Siapapun dia pasti akan menyenangkan untuk diajak hang-out dan dapat diandalkan dalam membangun suasana. Tapi.. Tapi.. Perlu diperhatikan batasannya ya. Karena tebakan kita terhadap reaksi pihak luar akan pernah meleset. So, walau humor itu mekanisme defense yang matur, tentunya harus bisa membaca situasi. Apakah humor yang kita lemparkan dapat menyakiti hati/pikiran pihak lain? Apalagi kalau si pihak lain lagi PMS.. Hahaha, sayah pisan. Kalau terlanjur dilepeh, kagok negro, percaya deh simple sorry wont hurt you..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s