Macetnya Bandungku


Dua hari yang lalu, ber-angkot ria dari dataran Tegalega raya ke daratan tinggi Institut Teknologi Bandung sangat membuat gerah. Yaah..hanya membutuhkan waktu sekitar 2 (dua) jam-lah. SEBENTAR KAN??

Saya yang tergiur hanya naik angkot 2 kali langsung bingung ketika perjalanan ternyata memakan waktu lama. Pertama, angkot Tegalega-Cisitu ngetem lama sekali. Seharusnya saya teringat bahwa peminat angkot ini di siang hari sangat sedikit. Berbeda dengan pagi hari, dinamis sekali karena melewati beberapa sekolah dan Pasar Baru. Kedua, hampir sepanjang jalan dari Tegalega sampai mesjid Batan macet. Saya sampai bingung harus mengisi kemacetan dengan kegiatan apalagi. Jatah minimum tilawah harian sudah dilahap, melihat beberapa akun sosial media milik pribadi juga sudah (dan meng-kepo ke beberapa orang, haha), cek-cek tugas di e-mail beres, bahkan sempat tertidur juga lho.. Belum juga sampai di kampus tercinta.. ;preet

Mungkin karena sudah masuk musim libur ya, jalanan Bandung tambah macet saja padahal belum akhir pekan. Beberapa sekolah memang membagikan raport murid-murid pada hari itu. Bayangkan berapa banyak sumber daya yang terbuang di tengah kemacetan? Waktu (terlambat untuk melakukan deal-deal penting?), tenaga (saya langsung cari kantin begitu turun dari angkot, lapaar.. Asa kasedot ke jalan tenaga teh, heu), dana (pasti lah ya..) dan kesehatan (polusi, Cyiiin!!) ya pastinya. Dan beberapa turunan sebagai anak-cucu konsekuensi yang muncul dari kemacetan yang terjadi. Sayang banget ya?? Sebenarnya apa sih yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemacetan?

Berdasarkan teori transportasi karangan saya, kemacetan muncul karena terjadinya ketidakseimbangan banyak jalan dan kendaraan. Seharusnya banyak jalan dan kendaraan berbanding lurus kan? Kalau pemerintah belum bersedia meningkatkan tarif pajak kendaraan bermotor, belum mampu menyediakan transportasi massal yang layak bagi masyarakat, belum mampu memperlebar jalan atau bahkan membangun jalan layang, jalankan saja kebijakan-kebijakan ringan. Misalnya, (a) Memberlakukan jalur 3 in 1 di jalan Pasteur-Suci, sepanjang Soekarno Hatta dan jalan Jakarta tanpa batas waktu; (b) Menerapkan usia kendaraan layak beroperasi (kendaraan pribadi dan umum ya, lumayan juga untuk mengurangi polusi); dan (c) Mengedukasi supir angkot (dan masyarakat umum) cara berkendara dengan aman dan sesuai peraturan lalu lintas.

Untuk kita, sebagai bagian dari masyarakat, hayu sasarengan ngawujudkeun Bandung Juara!! Walikota Bandung, kang Ridwan Kamil, yang beberapa waktu lalu baru dilantik, sudah mulai mempercantik kota tercinta ini. Kita pasti bisa merasakan beberapa trotoar merapih dan kawasan Kepatihan sudah bersih dari pedagang kaki lima. Nah, hayuuu sasarengan ngawujudkeun Bandung Juara!! Mari mulai mendidik diri pribadi dan keluarga terdekat untuk berjuang bersama mengurangi kemacetan. Kalau mobil atau motornya keburu kebanyakan di rumah, jangan dikeluarin semua tiap hari.. Janjian aja berangkat dan pulang bareng. Kalau mau diinfakkan ke saya juga boyeeh (hahaha). Atau, mungkin ada peneliti bidang teleportasi yang bisa mewujudkan pintu kemana aja-nya Doraemon. Bisa jadi!! Bisa jadi!! (tepokjidat)😛

Kemacetan di Bandung merupakan masalah bersama. Jadi, hayu sasarengan ngawujudkeun Bandung Juara nu bebas ti macet!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s