Keutamaan Doa


Teh, as you wish =)

Untuk catatan, hasil berikut diambil dari berbagai sumber (internet). Kontennya memang rawan pertanggungjawaban. Oleh karena itu, feel free memberi komentar untuk perbaikan.

Doa dalam Al Quran

  1. Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu. (QS Al Mukmin:60)
  2. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. (QS Al Baqarah:186)
  3. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (berkuasa) di bumi? (QS An Naml:62)
  4. (Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat yang mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukanlah mereka kedalam surga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS Al Mukmin:7-8)
  5. Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS 13:14)
  6. Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (QS. 42:26)

Doa dalam Hadits

  1. Doa seorang muslim untuk kawannya yang tidak hadir dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)
  2. Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya’la)
  3. Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dihadapan Allah, selain daripada doa. (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
  4. Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)
  5. Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang bila dimintai (sesuatu). (HR. Tirmidzi dari Ibnu Majah)
  6. Sesungguhnya doa itu dapat memberi manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi. Maka wahai hamba Allah, lakukanlah doa itu. (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar)
  7. Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah, kecuali akan dikabulkan doanya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa. (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah Ibn Shamit)
  8. Tidak ada seorang muslim pun yang bardoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutuskan hubungan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu dari tiga hal: dikabulkan doanya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa. (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)
  9. Barangsiapa mendoakan keburukan terhadap orang yang menzaliminya maka dia telah memperoleh kemenangan. (HR. Tirmidzi dan Asysyihaab)
  10. Doa itu bermanfaat terhadap sesuatu yang telah turun (terjadi) maupun sesuatu yang belum terjadi, maka kalian wahai hamba Allah- harus berdoa. (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Ibu Umar, Shahihul Jami’ No. 340, Al-Albani berkata, hasan)
  11. Tidak bisa menolak qadha (takdir yang sudah terjadi) kecuali doa, dan tidak bisa menambah umur selain kebaikan. (HR. At-Tirmidzi; hasan, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani). Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat, boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir. Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. [Mura’atul Mafatih 7/354-355].
  12. Tidak menambah umur kecuali kebaikan, dan tidak bisa menolak qadar (putusan dalam catatan) kecuali doa. Sesungguhnya seseorang itu bisa terhalangi dari rizkinya karena dosa yang telah ia perbuat. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Al-Iraqi)
  13. Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam. [Al-Haitsami, kitab Majma’ Az-Zawaid. Thabrani, Al-Ausath. Al-Mundziri, kitab At-Targhib berkata: Sanadnya Jayyid (bagus) dan dishahihkan Al-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah 2/152-153 No. 601]. Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud dengan ‘Ajazu an-naasi adalah orang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min ‘ajzin ‘an ad-dua’i adalah lemah memohon kepada Allah terlebih pada saat kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkan perintah-Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangat ringan. [Faidhul Qadir 1/556]
  14. Dari Aisyah ra. bahwa beliau berkata: “Tatkala Rasulullah saw. terkena sihir orang Yahudi bernama Lubaid bin A’sham, beliau berkata sehingga seakan-akan Rasulullah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya hingga pada suatu malam Rasulullah saw. berdoa kemudian berdoa dan terus berdoa”. [Shahih Muslim, kitab Salam bab Sihir 7/14]
  15. Dari Ali bin Abu Thalib ra. berkata bahwa, “Tatkala saya mulai bertempur saat perang Badr saya kembali dengan cepat untuk melihat apa yang dikerjakan Rasulullah saw., ternyata beliau sedang bersujud dan membaca: ‘Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal! Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal!’, kemudian saya kembali bertempur, lalu saya kembali lagi ke tempat Rasulullah, saya temui beliau dalam keadaan sujud, kemudian saya kembali bertempur lalu saya kembali ke tempat beliau dan saya temui masih membaca doa tersebut sehingga Allah memberikan kemenangan”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/98]

Pendapat Ulama tentang Doa

  1. Jika Anda berkata, ‘Apa faedahnya doa, sedangkan qadha (putusan takdir) itu tidak bisa ditolak?’, maka ketahuilah bahwasanya termasuk bagian dari qadha adalah menolak bala (petaka) dengan doa. Jadi doa itu merupakan penyebab untuk menolak bala dan untuk menghadirkan rahmat, sebagaimana sebuah tameng yang menjadi penyebab untuk menghalau anak panah, dan air yang menjadi penyebab tumbuhnya tanaman. Maka sebagaimana tameng itu menolak panah, yang berarti saling mendorong, begitu pula antara doa dan bala. (Al-Ihya, 1/328).
  2. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Doa itu adalah satu penyebab yang bisa menolak bala. Jika doa lebih kuat darinya maka ia akan mendorongnya, dan jika penyebab bala yang lebih kuat maka ia akan mengusir doa. Karena itu diperintahkan ketika ada gerhana dan bencana besar lain untuk shalat, berdoa, beristighfar, sedekah dan memerdekakan budak. (Al-Fatawa, 8/193)
  3. Ibnul Qayyim berkata, “Doa termasuk obat yang paling bermanfaat, ia adalah musuh bala, ia mendorongnya dan mengobati, ia menahan bala atau mengangkat atau meringankannya jika sudah turun.”
  4. Ibnul Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa doa orang mukmin itu tidak akan ditolak, hanya saja terkadang yang lebih utama baginya itu diundur jawabannya atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaannya, cepat atau lambat.” (Fathul Bari, 11/141)
  5. Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk penyakit yang menghalangi terkabulnya doa adalah tergesa-gesa, menganggap lambat pengabulan doanya sehingga ia malas untuk berdoa lagi. Padahal bisa jadi antara doa dan jawabannya memerlukan waktu 40 tahun, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas.” (Abu Laits As-Samar-qandi dalam Tanbihul Ghafilin)
  6. Syaikh Al-Mubarak Furi mengatakan bahwa Syaikh Al-Qari berkata, “Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah tidak melihat hasil doa saya. Terkadang merasa doanya lambat dikabulkan atau putus asa dari berdoa dan keduanya tercela. Perlu diketahui, ada waktu tertentu untuk terkabulnya doa, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa doa Musa dan Harun agar Fir’aun dihancurkan oleh Allah baru terkabul setelah empat puluh tahun. Adapun berputus asa dari rahmat Allah tidak akan terjadi kecuali atas orang-orang kafir.” [Mura’atul Mafatih 7/348]
  7. Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa di dalam hadits di atas terdapat etika berdoa yaitu terus mengajukan permohonan dan tidak berputus asa dalam berdoa sebab demikian itu merupakan bagian dari sikap ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah serta merasa membutuhkan Allah, oleh karena itu sebagian ulama salaf berkata, “Kami lebih takut dihalangi untuk berdoa daripada dihalangi terkabulnya doa.”
  8. Imam Ad-Dawudi berkata, “Dikhawatirkan orang yang mengatakan bahwa dia selalu berdoa tetapi tidak dikabulkan maka doanya benar-benar tidak dikabulkan, atau benar-benar tidak dikabulkan penangguhan siksa akhirat atau pengampunan dosa-dosanya.”

Waktu-waktu Utama untuk Berdoa

  1. Rasulullah saw. ditanya, “Pada waktu apa doa (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?” Rasulullah saw. menjawab, “Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam). (Mashabih Assunnah)
  2. Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah ‘Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : “Adakah orang yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?” Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)
  3. Doa yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)
  4. Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan doa orang yang dizalimi (teraniaya). Doa mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, “Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.” (HR. Tirmidzi)
  5. Tiga macam doa dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan doa seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
  6. Ambillah kesempatan berdoa ketika hati sedang lemah-lembut karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-Dailami)
  7. Hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, ketika sujud, ketika sakit, ketika minum air zam-zam.

Adab-adab Berdoa

  1. Berdoa dan memohon sesuatu hanya kepada Allah swt.
  2. Ikhlas karena Allah swt. (QS Al Mukmin:14 dan Al Bayinnah:5)
  3. Tadharru’ (merendahkan diri), raghbah (berharap dikabulkan), dan rahbah (rasa takut tidak dikabulkan), khusyu’ (QS Al Anbiya:90).
  4. Makanan, minuman, dan pakaian diperoleh dengan halal. Seperti pada hadits, “Ada seseorang yang sudah lama dalam safar (perjalanan) dengan rambut kusut dan (tubuh) penuh debu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, ‘Ya Rabb, ya Rabb…’, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram, bagaimana mungkin (doanya) dikabulkan?” (HR. Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi).
  5. Berwudlu sebelum berdoa (jika memungkinkan).
  6. Menghadap kiblat, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam doa istisqa’ (minta hujan) yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan judul bab berdoa menghadap kiblat.
  7. Menghadirkan hati dalam berdoa. Seperti pada hadits berikut, ‘Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan lengah.’ (HR. Ahmad)
  8. Mengangkat kedua tangan dalam berdoa, seperti pada hadits, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa.’ (HR. Al Hakim)
  9. Merendahkan suara ketika berdoa (QS Al A’raaf:55).
  10. Mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah swt., lalu diikuti dengan bacaan shalawat kepada Rasulullah saw. dan diakhiri dengannya. Seperti pada hadits, “Jika salah seorang di antara kamu berdoa, hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Tuhannya, dan bershalawat kepada Rasulullah saw., kemudian berdoa apa yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad, di-shahih-kan oleh Al-Albani) dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu pernah berdoa, ia memulai dengan tahmid, kemudian bershalawat, kemudian diteruskan dengan doa untuk kebaikan dirinya. Maka Nabi berkata: “Mintalah pasti kamu diberi, mintalah pasti kamu diberi.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih, dan Abdul Qadir Al-Arnauth berkata, sanad-nya hasan).
  11. Mengakui dosa yang telah diperbuat dan bertaubat atasnya serta mengakui nikmat yang telah didapat dan bersyukur atasnya.
  12. Tawassul kepada Allah dengan asma’ul husna atau sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakan sendiri, atau dengan doa seorang shalih yang masih hidup dan berada di depannya.
  13. Mendoakan diri sendiri sebelum mendoakan orang lain.
  14. Ali Ra berkata, “Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan doa : “Ya Allah, rahmatilah aku”. Lalu beliau menepuk pundakku seraya berkata, “Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus adalah seperti bedanya langit dan bumi.” (HR. Ad-Dailami)
  15. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan doa dan yakin doanya akan dikabulkan Allah swt. Seperti pada hadits, “Mohonlah kepada Allah sementara kamu sangat yakin untuk dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan bermain-main.”(HR. At-Tirmidzi, dihasan kan oleh Al-Mundziri dan Al-Albani)
  16. Penuh kerendahan dan tidak terburu-buru dalam berdoa, seperti pada hadits, “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, ‘Saya telah berdoa tetapi tidak dikabulkan’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  17. Bermohonlah kepada Rabbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): “Barangsiapa berdoa (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan doanya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunan-Ku maka Aku ampuni dosa-dosanya.” (Ar-Rabii’)
  18. Apabila kamu berdoa janganlah berkata, “Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki.” Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)
  19. Jangan mendoakan keburukan (mengutuk) dirimu atau anak-anakmu atau pelayan-pelayanmu (karyawan-karyawanmu) atau harta-bendamu, (karena khawatir) saat itu cocok dikabulkan segala permohonan dan terkabul pula doamu. (Ibnu Khuzaimah)
  20. Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam berdoa.
  21. Tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutus silaturahim.
  22. Mengembalikan (hak orang lain) yang didzalimi disertai taubat.
  23. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Seperti pada hadits, “Hendaknya kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan siksaNya kepada kalian, lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankannya)
  24. Tidak berlebih-lebihan dalam berdoa.
  25. Memanjatkan doa tiga kali.

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s