Makan Siang di Taman SR


Nah, asa di luar negeri (mengingat bahwa ‘asa’ itu jauh dari ‘enya’). Jumat siang ngampar tiker plus karpet plastik yang kotak-kotak (seperti terlihat pada gambar, jadi inget TA atau Tesis, bahasa-bahasa..). Kang Muy, Kang Bambang, Dani Badra, dan aku menikmati Mie Ayam Janda Idaman di taman Seni Rupa. Lunch bareng nih, sudah kujanjikan beberapa waktu sebelumnya, lebih dulu dari jadwal rapat perdana di kantor Sucore. Alih-alih berangkat ke daerah Surapati, aku sibuk mempersiapkan mangkok (pinjem dari Asrama Putri Salman ITB) dan beli mie ayam. Karpet disiapin Kang Muy dan Kang Bambang sementara Dani Badra bawa air mineral untuk kami. Lumayan berat ternyata, sampai ikhwan-ikhwan itu ngebantuin aku ngangkut barang bawaan.

All set, lalu mulailah kami santap siang bersama.

Lalala, sangat menyenangkan ngobrol bareng akang-akang itu. Lucu banget, gak ada abisnya cerita yang bikin seuseurian. Kang Muy cerita jaman kuliah, banyaaaaaakkkk banget yang bisa diceritain. Gak heran, kuliahnya lama sih (peace). Perjuangan menyelesaikan Tugas Akhir, dosen pembimbing yang berkarakter unik, dan mengulang beberapa matakuliah (sampai jadi master malah). Kali ini aku yang bilang: ‘Your kungfu is very good, teach me, Master!’.

Kang Muy dan Dani se-pekerjaa-an sekarang, beda daerah tapi. Dani di Lampung, sementara kang Muy berjarak dua jam lewat Cipularang. Nah, kesempatan bagus kan bisa makan siang bareng. Dani badra juga ‘gelo’ kunilai. Untuk ukuran alumni Asrama Putra Salman ITB, Dani ngocol abis. Dulu kami sama-sama sekolah di SLTPN 5 Bandung dan jadi penggiat Rohani (DKM SMP). Tapi belum ngeh, gak apal deh sama dia. Ketemu lagi di Pelatihan Putra Sunda, sama-sama jadi peserta. Pelatihan yang bagus, dari sisi konsep. Pesertanya sedarah-sedaerah (istilah gampangnya). Seru deh, kami disimpan di hotel yang ada air hangatnya (di beberapa kamar) lalu dibuang ke ‘hutan’. Tidur di tenda beregu sampai dipaksa mendirikan tenda dari ponco tipe single bed (kesilep sama istilah perhotelan, lupa). Karena aku ketua regu, semua perbekalan disimpan di dekat poncoku. Tegaaaang banget, takut ada binatang berekor panjang (tikus dan ular) ikut nginep malem-malem. Demi kenyamanan ‘anak buah’, kapten terlihat baik-baik dan sangat percaya diri (dan Allah, tentunya). Banyak pengalaman tuh, kalau masih ada kesempatan, ikut deh =)

Sementara Kang Bambang, tipe pekerja bulanan. Maksudku, sebulan kerja di Papua sebulan ‘semi’ libur di Bandung (biasanya ngider juga siih). Asiknya, belakangan ini tiap pulang ke Bandung selalu mampir ke rumah bawa oleh-oleh. Biasanya hanya ketemu sama Mama karena aku belum pulang. Pernah beliau bawa kepiting dari Papua, ya ampunnnn, gede dan dagingnya enak banget!!! Beda sama kepiting lokal sini. Sampai mabok makannya juga, itu kepiting kalo disusun ulang besar satuannya sama dengan dua bungkus Indomie dijejerin (Mba Ica seneng nih, hihi).

Udah ah, khawatir jatuh ke lembah ghibah. Punten ya =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s