Cinta, Jangan Kau Pergi


Aku diundang hadir di Keputrian SMAN 5 Bandung Jumat siang lalu. Temanya tentang Valentine’s Day, tematik sekali untuk pertengahan Februari. Sepanjang perjalanan menuju mushalla Nurul Khamsah, aku membaca tabloid Al Izzah edisi Januari 2005. Aku kopas-kan bagian-bagian yang kusuka ya…

Ibnul Qayyim Al Jauziah mengatakan, “Mahabbah (cinta) ada dua, yaitu mahabbatullah (cinta kepada Allah) dan mahabbah lighairillah (cinta kepada selain Allah). Cinta kepada selain Allah dibagi menjadi tiga, yaitu mencintai apa yang dicintai Allah swt. (bagian dari syariat), cinta untuk Allah dan di jalan Allah, cinta yang dijadikan tandingan/saingan Allah (kemusyrikan).”

Ahmad Sahal Hasan, Lc. mengatakan, “(1) Hindarilah waktu-waktu dimana anda berpeluang memandang apa-apa yang diharamkan Allah. Baik yang disengaja ataupun tidak. Oleh karenanya, dalam ta’amul dengan akhawat atau sebaliknya, hendaklah berhati-hati. Sesuatu yang mubah juga harus ada kadar dan takarannya. Tidak dilakukan semaunya sebab pandangan itu termasuk jatuh cinta. (2) Hati-hati terhadap al khatarat (lintasan pikiran). Bawalah ia kepada hal-hal yang positif. Jangan biarkan bermain dalam hal-hal yang tidak berguna apalagi negatif. Segera lawan! (3) Hindari lafadzat, kata-kata yang bisa menjerumuskan kepada jatuh cinta. Ini tidak syar’i. Bicaralah yang normal-normal saja, tidak terlalu berlebihan memberi perhatian.”

Ketika ikhwah jatuh cinta, hatinya harus menjadi pengikut setia ajaran Sang Pemberi Cinta. Tidak ada tempat bagi unsur-unsur nafsu yang merusak. Semua harus melebur ke dalam ketaatan dan keinginan untuk beramal shalih. Sebab, setiap urusan seorang ikhwah harus berbuah kebaikan. Termasuk soal cinta. Ia harus membuka jalan menuju keindahan surga. Bukan sebaliknya menjerumuskan kepada kenestapaan api membara. Disini kita akan melihat bahwa ruh orang-orang yang mabuk cinta di jalan Allah laksana titik-titik embun yang lembut. Ia menyegarkan jiwa dan menguatkan raga. Cinta seperti inilah yang menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak kenikmatan dan kesenangan. Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah oleh) orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan (HR Ibnu Abbas).

Ketika ikhwah jatuh cinta, ia sedang jatuh cinta pada keindahan Ilahiyah. Bisa jadi itu hadir dalam wujud yang sedap dipandang mata. Mungkin juga berbentuk lantunan suara yang menyejukkan hati. Keindahan itu bisa nyata dalam kekuatan kesetiaan untuk berjuang bersama. Dimana kesahajaan, ketaatan, kekuatan menolak kebatilan dan penjagaan keyakinan akan Allah menjadi hiasan sehari-hari.

Ketika ikhwah jatuh cinta, ia harus beranjak dari keegoisan pembangunan unsur diri kepada manfaat umat. Ia mau tidak mau harus menjadi undur diri yang lebih berarti banyak ketimbang sebelumnya. Sebab umat kelak membebankan kepadanya tanggung jawab pembangunan fondasi kekuatan masyarakat. Dimana keluarga adalah pilar utamanya. Suatu ketika hasil yang diharapkan akan menjadi buah manis bagi pembangunan sebuah bangsa. Sebuah masa depan yang lebih cerah yang dibangun dari generasi yang cerdas dan bertakwa. Harapan ini tak lain lahir dari rahim cinta para ikhwah.

(byk)

Jatuh cintalah, jika cinta itu bernilai jalan untuk mengeksiskan kedudukan dakwah kita. Akan tetapi, jangan berpikir jatuh cinta jika ia hanya menyebabkan kegelisahan, keresahan yang mendorong kepada perbuatan sia-sia dan maksiat kepada Allah.

Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah saw. dan jalan meraih ridha-Nya.

Cinta memiliki dua mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan sisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada dirii sendiri, sudah siapkah jatuh cinta?

(H)

Subhanallaah, inspiring sekali^^

Duhai Dzat yang melindungi pembawa panji Islam dengan hidayah-Nya

Wahai Rabb yang memudahkan mujahid mengisi hati dengan keimanan

Sang Pemberi Cinta yang menyatukan pejuang da’wah dalam cinta kepada-Nya

Hamba-Mu yang kecil datang ke hadirat-Mu

Orang miskin-Mu datang ke hadirat-Mu

Orang fakir-Mu datang ke hadirat-Mu

Peminta-Mu datang ke hadirat-Mu

Ya Illaahi Rabbi,

Jangan pernah pergi dari sisiku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s