Pendakian Gunung Semeru (25 Desember 2009 – 1 Januari 2010)


Team Summit Semeru:

Om Farid, Bang Safri, Mas Yan, Kak Oki, Dek Ali, Teh Neti, dan Gantina.

Awalnya kutolak ajakan Leni ke Semeru-Bromo-Sempuh karena bentrok dengan agenda rapat kerja Salman. Pikirku, rapat kerja pertama tidak boleh dilewatkan walaupun bisa didelegasikan. Alhamdulillaah, jadwal raker diundur menjadi tanggal 2-3 Januari 2010 sehingga bisa kualami pendakian gunung Semeru (pendakian ke Bromo dibatalkan dan tidak ikut perjalanan ke Sempuh karena jadwal yang mepet). FYI, Semeru adalah gunung tertinggi dan masih aktif di pulau Jawa sementara Sempuh banyak dipuji orang karena pantainya mirip pantai di film The Beach. Perjalanan dimulai segera setelah kuselesaikan pekerjaan (Salman, ITENAS, dan ETOS), kukantongi ijin orangtua, dan perlengkapan siap.

Jumat, 25 Desember 2010

Aku terlambat datang briefing keberangkatan karena persiapan yang tidak efisien. Aku ingat hari itu banyak agenda yang harus ditunaikan, rushed banget. Pagi hari menghadiri pembinaan Etos, siangnya menemui kang Randi memilih kartu undangan pernikahannya, setelah itu baru sempat packing padahal briefing pukul empat sore. Alhamdulillaah, Arie (sang ojek-ganteng-ku) siap mengantar ke Salman sehingga pukul lima sore sampai di basement Salman (sempat terjatuh saat berusaha mengangkat tas besar yang sepertiga berisi pakaian, sepertiga berisi sleeping bag, dan sisanya ransum). Sleebor ModeOn^^

“Weiss.. gagah banget, Gan?” tanya kak Pras saat melihat setelan PDL-jahim-tas gunungku.

“Heheh.. mau ke Semeru, kak” senyumku sambil jengah karena tidak terbiasa menggunakan celana untuk berkegiatan di Salman.

Sambil menunggu pengecekan barang di sekretariat Pembinaan Adik Salman (PAS), aku masih sempat mengambil berkas Rancangan Kegiatan dan Anggaran LMS di fotokopian di jalan Taman Sari (Hey, I just want to make sure everything okay while I took my end-year-holiday). Setelah semua perlengkapan selesai di cek, kami (minus bang Safri dan mas Yan) berangkat ke stasiun Kiaracondong. Bang Safri bergabung dengan kami di stasiun, bawaannya heboh banget. First impression-ku: menakutkan, badan gede-hitam gituh. Di stasiun, aku juga bertemu dengan Arif, pembina Asrama Putra Salman, yang mempertanyakan mahram yang menemani perjalananku (juga apa ini salah satu jalasah ruhiyahnya akhawat). Alhamdulillaah syarat perjalananku cukup walaupun ini bukan agenda jalasah ruhiyah akhawat, heuheu. Shalat Isya sebelum kereta tiba lalu rebutan tempat duduk di kereta ekonomi Kahuripan jurusan Bandung – Kediri.

Kereta berangkat pukul 20.30 WIB dari Kircon. Tak lama berdiri, kami mendapatkan tempat duduk di kereta, walaupun terpisah-pisah. Ini perjalanan pertamaku (berkereta belasan jam) lho, seru juga walau pantat gepeng kelamaan nempel di bangku. Perjalanan malam tidak dapat dinikmati, karena kereta padat dan di luar gelap. Aku langsung terlelap begitu dapat tempat duduk. Walaupun berkali-kali ke-badig orang yang lewat membawa barang.

Sabtu, 26 Desember 2010

Saat bangun untuk shalat shubuh, terjadi dilema. Shalat sambil duduk sajakah? Padahal Rasul tidak pernah mencontohkan shalat wajib dalam posisi duduk tapi kereta tidak berhenti lama di tiap stasiun yang dilewati. Setelah sampai di Bandung, kakakku bilang itu dalam kondisi yang sangat darurat jadi tak apa shalat sambil duduk.

Perjalanan selanjutnya membosankan karena seharian hanya terlihat sawah, mostly. Alhamdulillaah teman seperjalanan membuat pembicaraan yang menyenangkan. Ali memberitahu bahwa kacang tanah itu adalah buah, setelah putiknya terbuahi buahnya akan masuk ke dalam tanah (awas ya kalau dia bohong!!!). Belum lagi lucunya menyadari perubahan dialek Sunda ke Jawa dan atap rumah yang menjadi ciri khas daerah yang kami lewati. Hal indah lainnya yang tertangkap mata yaitu banyaknya kupu-kupu sepanjang perjalanan dan daun pohon tebu terbawa udara yang bergerak karena laju kereta. Oia, kami dalam proses saling mengenal saat itu, maklum sebagian baru bertemu. Tahu yang mengagetkan? Belum satupun dari kami yang pernah ke Semeru. Oh my Rabb, tidak ada pendaki senior dalam tim??

Perjalanan

Kami naik Kahuripan sampai stasiun Kertosono, dari sana kami naik kereka Dhoho ke arah Malang sampai stasiun Belimbing. Di kereta kami berbincang dengan mamah Sekar (sound like mamah Dedeh kan?). Ibu-ibu paruh baya yang religius banget (dari bahan obrolan yang beliau bawakan). Alhamdulillaah, selalu mengingatkan kami untuk meluruskan niat dalam perjalanan hidup. Melihatnya jadi teringat calon besan tanteku, hihihi. Kembali ke stasiun Belimbing, ya!! Stasiun yang punya kamar mandi bersih dan sepi ini jadi tempat istirahat sementara, kami membersihkan diri dan makan siang disana. Selanjutnya, mas Yan bergabung dan kami naik angkot sampai Tumpang. Di Tumpang, kami belanja kebutuhan makanan untuk tim dan mencarter jeep Toyota sampai ke Ranu Pani. Tumpang – Ranu Pani berjarak 35 km, dengan lebar jalan hanya dua meter jeep yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Jalanan berkabut dan mobil ugal-ugalan tidak sanggup menahan kantukku, berkali-kali kepala ini terjatuh karena tertidur. Sampai teman-teman lainnya tertawa dan memintaku mengikat kepala (ahaha). Sampai di Ranu Pani, kami segera membereskan barang di rumah salah satu penduduk dan tidur.

Ahad, 27 Desember 2010

Anggrek Liar

Pagi sekali kami bersiap untuk berangkat ke Ranu Kumbolo, semangat terlalu sampai terlupa untuk mempersiapkan sarapan cukup. Semua hanya mencicip beberapa potong roti dan teh manis. Berbeda dengan Safri yang dengan keluwesannya berhasil diberi sepiring penuh mie goreng. Perjalanan kami dimulai dari memilih dua gerbang yang bertuliskan ‘Selamat Jalan’ dan ‘Selamat Mendaki’. Kami pilih jalan mendaki, pilihan sulit ternyata (sesulit jalan dakwah ini). Baru berjalan beberapa meter saja nafasku sudah terasa sesak, lama sudah badan ini tidak berlatih. Terakhir olahraga rutin saat masih di Asrama Putri Salman dan itu sudah berlalu sekitar tiga bulan yang lalu.

Karena beban yang dibawa Safri terlalu berat, tim akhirnya terbagi menjadi dua. Safri-mas Yan-kak Farid berjalan dibelakang, sementara sisanya berjalan terlebih dahulu. Berkali-kali kami berhenti di perjalanan karena lelah, setiap kali break selalu diisi dengan minum air mineral atau makan snack. Asyiknya jika berpapasan dengan pendaki lain, kami pasti saling menyapa dan menanyakan asal kota.

‘Darimana, mas/mbak?’ tanya kami.

‘Dari keluarga baik-baik, mas/mbak,’ jawab mereka.

Track perjalanan ke Ranu Kumbolo hanya satu jalur, memudahkan  bagi pendaki pemula seperti kami. Sepanjang perjalanan hijau terlihat, di kanan maupun kiri kami. Dengan bukit di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri, kami berjalan dengan penuh kehati-hatian. Bukit yang pepohonannya lumayan padat dan tinggi.Total empat pos yang dapat dijadikan tempat beristirahat, bentuknya shelter berwarna hijau. Senang sekali jika tiba di shelter itu, melegakan karena bisa mengistirahatkan otot yang tegang. Ada satu shelter yang tidak kami jambangi karena sudah beristirahat sebelumnya, dan kami menyesal. Kenapa? Karena setelah shelter itu ada tanjakan yang luar biasa tinggi. Mukaku memerah seperti Humaira setelah sampai di puncak tanjakan. Kupikir tadinya itu adalah tanjakan Cinta, tapi setelah menanjak masih ada jungkir-balik track. Analogi nama dengan kondisi real tidak akan jauh, misalnya Tanjakan Setan di gunung Gede yang lebih cocok disebut Panjatan Setan atau Bukit penyesalan di Rinjani yang benar-benar menyesalkan. Hihihi, ternyata tanjakan Cinta dilewati setelah Ranu Kumbolo.

Setelah lima jam berjalan, akhirnya Ranu Kumbolo terlihat (sign system di Semeru menipu lho, 500 meter ternyata jauuuuhhh sekali). Danau dengan riak tenang yang menandakan kedalaman hampir 70 meter itu indah sekali. Danau yang dikelilingi bukit berpohon rindang di bagian timurnya dan padang rumput di barat memanjakan mata. Belum lagi biusan kabut yang membelai bukit berkali-kali, subhanallaah!!! Tak habis rasanya pujian pada Allah swt. membasahi bibir, alhamdulillaah. Begitu sampai di area camp, tim penda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s