Mangkuk Cantik, Madu Manis, dan Sehelai Rambut


Rasulullah saw. dan sahabatnya bertamu ke rumah Ali ra. Fathimah, istri Ali, menyediakan madu yang diletakkan dalam sebuah mangkuk yang cantik. Tak sengaja sehelai rambut terikut dalam mangkuk tersebut.

“Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman lebih susah dari meniti sehelai rambut.” (Abubakar)

“Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Umar bin Khattab)

“Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Utsman bin Affan)

“Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Ali bin Abi Thalib)

“Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Fathimah)

“Seorang yang mendapat taufik untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Rasulullah saw.)

“Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik; menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu; dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Jibril as.)

Aku memang tidak ada dalam jamuan itu, tidak pernah melihat secantik apa mangkuk cantik itu, tidak pernah merasai manisnya madu itu, juga tidak bisa menilai ketebalan sehelai rambut yang ikut tersaji. Kalau boleh berpendapat, menurutku, “Wanita shalihah itu lebih cantik dari mangkuk cantik; yang lebih manis dari madu adalah keihklasan; dan yang lebih sulit dari meniti sehelai rambut adalah mengamalkan ilmu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s