Jabat Tangan dan Wisuda


Wisuda ITB periode Juli sudah di depan mata, sudah dekat dengan penciuman, tinggal sehasta lagi untuk dicapai, dlsb. Bu’Eu, ceLen, Opoy, Tiara, Rito, bangFai, bangIkhwan, Husni, Abdur, dan k’Hilya adalah sebagian dari wisudawan Juli ini. Begini harapan yang masBas sampaikan saat aku lulus S1, Juli setahun yang lalu:

‘Semoga kelulusan dan gelar ini mempermudah dakwah, mengokokohkan posisi di masyarakat, memperlancar rizki, memperjelas perencanaan hidup, menambah rasa syukur tanpa menimbulkan kesombongan.’

Aku juga mengharapkan hal yang sama untuk kalian =)

Cacat yang penting pada momentum wisuda adalah mushofahah antara pria dan wanita yang bukan mahram. Padahal hukumnya sudah jelas lho: haram, karena termasuk bagian yang mendekatkan kepada fahisyah. Semoga teman-teman tidak tasahul dan tarakhsuh dalam hal ini karena ’azimahnya jelas (sekali lagi: haram).

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih  utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa’: 59)

Apalagi untuk da’i kampus, duuhhh.. mushofahah itu suatu yang sangat aib dan ’urf yang tidak terpuji dari sebagian orang.

”Wahai orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As-Shaff: 2-3)

Tapi.. kenapa sih mushofahah ini diharamkan?  Berikut adalah beberapa hadits pendukung =)

”Rasulullah saw. bersabda kepada wanita (yang hendak hijrah dan berbai’ah setelah diuji): ’Aku telah membai’ahmu secara lisan.’ Dan tidak, demi Allah, tangan Rasul saw. tidak menyentuh tangan wanita dalam bai’ah. Apa yang dibai’ahkan kepada mereka hanyalah perkataannya.” (HR Bukhari)

“Dari Abdillah bin Amru, bahwa Rasullulah saw. tidak menjabat tangan wanita dalam bai’ah.“ (HR Ahmad)

“Rasulullah saw. bersabda, ’Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal.’“ (HR At-Tabrani, berkata imam Al-Haitsami, para perawinya shahih)

Rasululah saw. saja tidak jabat tangan dengan non muhram pada situasi penting (bai’ah). Dari baca-baca: madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali juga  sepakat hukum jabat tangan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya haram. Sudah sepantasnya kita komitmen dengan hukum ini dan meneladani Rasulullah saw., sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS Al Ahzab: 21)

Semoga menjadi tadzkiroh bagi kita semua =)

Catatan:

  1. Permainan mencari arti kata yang dicetak miring nih, ’Siapa Cepat Dia Dapat!’ (maksudku: dapat memahami, heuheu).
  2. Guys, I wud do evrything to gradt on Oct!!! Banzai!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s