Pemilu, Masih Apatiskah Kita?


Pilihan tuh, mau ikut berperan dalam pemilu atau tidak? Kenapa juga pengen bahas ini? Lagi seru-serunya dikampus: HIMATIKA dalam proses pemilu Kahim, KM ITB lagi ngulang pendaftaran calon Presiden, dan sebentar lagi.. Pemilu Indonesia!!! Bukan iseng juga tiba-tiba nanya ke beberapa ustad mengenai landasan syar’i urgensi keikutsertaan dalam Pemilu. Berharap punya landasan gerak dalam beramal, al fahmu dulu baru beramal.

1. Kewajiban memilih pemimpin.

‘Kalau kalian dalam perjalanan, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memimpin kalian.’ [HR Ibnu Hibban dari Abi Sa’id Al Khudriy ra]

2. Kewajiban memberikan amanah kepada ahlinya.

‘Dari Abi Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kiamat (kehancuran). Dia (Abu Hurairah) berkata: Bagaimana menyia-nyiakannya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Apabila urusan disandarkan (diserahkan) kepada selain ahlinya, maka tunggulah kiamat (kehancuran).’ [HR Bukhari]

3. Kaidah ushul fiqh

‘Hukum sarana itu mengikuti hukum tujuan,’ dan ‘Sesuatu yang tanpanya sesuatu yang wajib itu tidak sempurna, maka ia pun wajib.’

Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah yang sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

Terkait dengan memilih pemimpin sebagai tujuan, maka Pemilu (yang menjadi sarananya) menjadi wajib juga (harap koreksi jika ini terlalu keras). Maklumlah, di Indonesia masih memakai sistem pemilihan seperti ini: demokrasi tea ning.

Jadi, bersiaplah untuk beramal!!

Tambahan informasi dari salah satu ustad referensiku (actually, bincang-bincang via telp-nya panjuaaaannnggg.. tapi sarinya segini ajah, insyaAllah cukup):

‘Ini bukanlah moment mencari kekuasaan. Saat kursi-kursi pemerintahan tidak diisi oleh seseorang yang ditangan kanannya Al Qur’an dan As Sunnah di tangan kirinya (juga dengan kapabilitas yang berkualitas), maka kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengisi sebanyak-banyak kebaikan bagi masyarakat.’

Oia, tambahan hadits pendukung yeuh:

‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Apabila ia tidak sanggup, maka dengan lidahnya. Apabila ia tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah.’ [HR Muslim]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s