Harapan Gemintang
Ahad siang…
Cuaca lumayan panas dicampur semilir angin yang melewati pintu ruang tamu dan meja belajar, kantuk berat gara-gara g tidur. Mata melet-melet sambil nge-run latex, beratnya melawan bulu mata yang saling merajut. Jangan tanya bosen dan pusingnya menatap laptop dengan nanar, berharap muncul ide segar untuk membuktikan dekomposisi dari $[\tau]_{\mathcal B}$. Saat itu, hanya bisa jadi editor rendahan menelusuri tiap kata padahal Bab 3 masih tak tahu arah.
Walaupun kondisi fisik nyaingin panasnya mesin laptop yang tiap muter DVD mengeluarkan gerungan aneh, suara asik dari ‘Oprah Show’ tetap tertangkap, heuheu. Lagi siaran tentang anak-anak bertalenta, cool‼ Salah satunya adalah Connie Talbot, gadis kecil berusia 7 tahun. Nongkrongin second place di acara cari bakatnya Cowell, dipuji bahkan sama pak Cowell. Hebatnya, tuh acara cari bakat peruntukannya orang dewasa. Menurut pengakuan Connie, dia mulai menyanyi sejak umur 2 tahun. Well, g aneh juga ya.. bisa bawain Over the Rainbow penuh vibra gitu‼
Bukan hanya Connie Talbot yang jadi sorotan siang itu, ada anak berbakat pidato, berbakat pintar, berbakat melipat tubuh, dllsb. Wuizzzz… (lebay mode on), getaran sehebat apa yang orangtua mereka nikmati di hati saat melihat anaknya mendapat apresiasi se’mewah’ itu?
Lalu renungkan kawan, tangis senikmat apa saat keturunan kita adalah da’i/da’iyyah yang selalu menutup harinya dengan muhasabah dan yakin bahwa hari ini lebih baik dari hari kemarin?
Rasulullah telah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(Belum punya anak sih jadi feelnya belum pas, gpp ya…)
Berkaca pada teman-teman yang tengah menanti kelahiran anak mereka, aku yakin anak itu karunia Allah swt. yang sangat diharapkan. Benar memang, lingkungan juga mempengaruhi kepribadian. Namun, interaksi dan kedekatan emosi yang terbangun dalam keluarga membawa watak tertentu pada anak. Pengen anak yang berbakti dan sholeh? Bukan barang gratisan dari Dia, heuheu.
Orang tua punya peran besar dalam mendidik, mengasuh, dan mengarahkan anak. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaga-penjaganya malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya.” (QS At Tahrim : 6).
Dahulukan ilmu sebelum amal, ini salah satu buku yang aku referensikan: ‘Agar Anda Tidak Menjadi Orang Tua yang Gagal’ karangan Laurence Steinberg, Ph.D. Sekilas info aja ya.. menurut penulis ada 10 dasar pengasuhan yang baik, yaitu:
- Tindakan anda penting artinya
- Anda tidak mungkin bisa terlalu mencintai
- Libatkan diri anda dalam kehidupan anak anda
- Sesuaikan pla pengsuhan dengan anak anda
- Buat aturan dan tetapkan batasan
- Bantulah menumbuhkan kemandirian anak anda
- Bersikaplah konsisten
- Hindari disiplin kasar
- Jelaskan peraturan dan keputusan anda
- Perlakukan anak dengan hormat
Selain mencari ilmu terkait pengasuhan anak, baik dari sisi islami maupun pemikiran yang banyak beredar di toko buku, praktek paling oke dung^^
Contoh riil di keluargaku yaitu adik yang bontot. Namanya Iput, kelahiran tahun 2000 M. Tahun ini dia berlatih shaum seharian selama sebulan penuh (kakaknya aja mulai kapan ya, heuheu). Lucu banget trik yang mama lakukan di waktu sahur supaya iput bisa ikut makan bareng keluarga. Setelah salah satu kakaknya membangunkan, mama datang membawa waslap basah. Seger spontan dung, adikecilku itu. Pelan-pelan, dia disuapi. Minum susu lalu kembali tidur dengan lelap. Alhamdulillah dia bertahan sampai hari ini =)
Memang, mama dan aku menjanjikan sesuatu jika dia lulus shaum sebulan penuh. Begini dialog yang kami lakukan tempo hari,
A : put, puasanya tamat ga hari ini?
I : iya dung‼
M : kasih hadiah, kak, kalo tamat sebulan.
A : boleh, ntar a anter beli *** deh.
I : asiiik‼!
A : iya, a nganter doang lho, duitnya dari bapak, wkwkwk =P
B : pinter kamu, kak..
tiba-tiba semua berniat memberi hadiah (mengantar membeli hadiah, makxutku).
Hal penting yang kupelajari: teladan dan kerjasama keluarga.
Adikecilku, harapan gemintang keluarga. Sama seperti yang kakakku pernah doakan tempo hari:
‘di depan ka’bah yang agung, di bawah rembulan yang bersinar, dan disaksikan oleh para malaikat, aku berdoa ya Allah, jadikanlah adikku tercinta wanita sholehah yang menjadi panutan banyak bagi yang lain, bermanfaat banyak bagi umat, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga dan kakaknya, amiin
’
Amiin, amiin ya rabbal ‘alamiin ^^
Buka Bareng a.k.a Farewell Party
Aku kenal dia sudah sekitar 11 (sebelas) tahun. Kami masih lucu waktu pertama kali bertemu, kekanak-kanakan. Satunya masih suka dikepang atau dijepit di samping jika berangkat ke sekolah, lainnya lebih suka potongan rambut pendek. Namun tetap terasa bersahaja auranya saat kami berinteraksi. Awal perkenalan hanya saling tahu saja, ternyata kami sekelas di tahun terakhir saat SMP. Sayangnya, aku tidak banyak mengingat kenangan kebersamaan. SMP salah satu tahun yang memoryless. Bukan karena tidak menyenangkan, hanya saja grafik kehidupan masih datar untuk jadi perhatianku. Aku mengingatnya sebagai teman sekelas yang baik hati , cantik, dan pintar (Ingat ajang missuniverse ya? Jika mau, dia memang bisa jadi model).
Seperti sudah kukatakan, dia pintar. Buktinya dia berhasil masuk SMA ter-favorit se-Bandung, SMAN 3 Bandung. Kami masih seatap kok, aku bersekolah di SMAN 5 Bandung (seingatku favorit kedua di Bandung kala itu). Kami menjalani kehidupan masing-masing. Catatan penting fase ini yaitu komunitasnya lebih ‘sholehah’ daripada komunitasku.
Ketetapan Allah swt., tidak dapat dihindari. Alhamdulillah, kami berjodoh kuliah bersama di ITB. Senang melihat seseorang yang sudah familiar di awal interaksi dengan kampus. ‘Ada balad euy!’, bisikku dalam hati. TPB bersama, irisan aktivitas organisasi bersama, komunitas bersama, dlsb. Banyak sama-sama yang kami lalui, termasuk sama-sama ter-tarbiyah di kampus. Saling mengingatkan saat mulai lembam di jalan da’wah, saling mengingatkan saat terancam virus merah jambu, dan saling menegur saat lalai mengemban amanah.
Kebersamaan dengannya, seperti segarnya sop buah yang jadi menu ta’jil hari ini. Perasaan indah bersamanya, seperti indahnya petasan air mancur yang meluncur tepat setelah doa penutup acara buka bareng hari ini selesai dibacakan. Hm, tanpa sadar terpaksa aku mengakui kecemasan kehilangannya. Kami yang tak terpisahkan selama ini, akan berjarak ribuan kilometer Oktober nanti.
Bener kata Kang Kahlil, ‘Kuatnya perasaan cinta baru terasa setelah mengalami perpisahan!’. Tapi tak perlu ada penyesalan untuk satu titik yang sedang menyapa garis kehidupan kami. Insyaallah, ini jalan terbaik untuk kami berdua. Kata temanku yang lain, ‘Di dunia ini, tidak selalu hal-hal baik yang terjadi pada diri kita. Dan entah kenapa, kita seringkali lupa bahwa setiap yang terjadi pada kita adalah yang terbaik dari-Nya’.
Ma’akissalaamah, ya ukht.
Ramadhan yang Hambar
Tanpa rasa padahal diperjuangkan
Tanpa kedekatan padahal sujud diperpanjang
Tanpa sukacita padahal dulu dirindukan
Ayat-ayatMu dilafalkan namun tak termaknai
Takbir padaMu digaungkan namun tak menggetarkan hati
Rakaat demi rakaat dilalui sebagai penanda gugurnya kewajiban
Berikan padaku, ya Allah‼ Berikan padaku, ya Allah‼
Nikmatnya berlama-lama menelusuri kalamMu
Nikmatnya mengadukan kegalauan hari padaMu
Nikmatnya bersusah payah di jalanMu
dan meneteskan air mata karena syukur padaMu
Engkau…
yang telah melindungi pembawa panji Islam dengan hidayahMu
yang memudahkan mujahid mengisi hati dengan keimanan
yang menyatukan pejuang da’wah dalam cinta padaMu
yang menciptakan ‘kata’ dan menghadirkan ‘makna’
Engkau…
dimana sungai kehidupanku bermuara
Kesadaran itu Matahari
“Kesadaran itu matahari,” celoteh mas Rendra
Sengatan panas dan kilau emas memicingkan mata sambil tengadah
Menghujani rimbunnya rasa yang tumbuh di hati
Menciptakan ‘kata’ dan menghadirkan ‘makna’
Sambil menunggu diksi tertera, menjadi asa
Sekarang, sampai nanti..
Mimpi-mimpi berlarian mengejar matahari
Bergemuruh sesibuk deru ombak membelah sunyi
Seperti laut yang memuluskan pinggiran pantai
Perlahan menuju fajar, dari malam paling gelap
Perlahan tinggalkan senja, dari lembayungnya langit
CampurSari: Tug My Heartstrings (?)
Cerita 1
Memed dan separuh jiwanya tandang ke kota kelahiranku pekan lalu. Penuh kerinduan kami menyusun jadwal pertemuan. Sayang, Allah belum mengijinkan kami bersua. Banyak cerita yang ingin kubagi denganmu, Med. Saudara seperjuangan saat hidup di kota keras penuh tantangan, masih kekanak-kanakan kami tempo hari. Memed dibalik PC-nya menyusun pers rilis kegiatan-kegiatan kantor sementara kawan lainnya (included me, of course) pulang pergi Lebak Bulus-Depok. Begitu cepat bulan berlalu, aku kembali ke Bandung (menghadapi realita hidup). Memed, Shanda, Mas Rendra, dan Kak Izal sebagian yang kurindukan untuk kembali bertukar cerita.
Cerita 2
Tepat saat jam mengajarku habis, telepon dari Linpau masuk.
L: lu dimana, gan?
G: otw ngampus
L: gw di kampus nih
G: serius, lu?? kapan brangkat dr palembang? ntar siangan gw kosong, ketemu yuk!
L: gw udah ada janji, sms-in jadwal kosong lu dah!
G: seep-seep..
Singkat cerita, Jumat sore akhirnya kami berhasil bertemu di tengah pak-pik-pek ngurusin titipan transkrip dan ijazah teman-teman (juga temennya Linpau yang lagi galau). Pertemuan singkat memang, wong aku harus segera cabut ke Cihanjuang. Padahal bakpau yang satu ini ke Bandung untuk mengobati kekecewaannya, asiifa ya ukht. Alhamdulillah, perjalanan Perpus Pusat-Salman sedikit mengobati kerinduan ngata-ngatain Linpau (kerjasama yang bagus, Rief). Bukankah cara mengungkapkan kasih sayang beragam? =P
Cerita 3
SMS Lya:
tin, rani g bs, frd gd kbr, ketyh lg sakit. gmn?
SMS-ku:
wah, pdhl kangen berat!! sakit apa ketyh?
SMS Lya:
badannya panas, takut DB lg. yang mw pengumumannya juga g bs.. next time?
SMS-ku:
insyaallah =)
Genggong jaman SMA, 8-an. Kami temenan dari kelas 1. Gak badung-badung amat sih, kenakalan biasa lah: mabal kemana-mana, rasis di kelas, sok gaul, ngeceng senior dr balik kaca kelas, lomba tepat lempar tisu bekas umbel ke tong sampah di luar kelas, nge-track di jalanan, dlsb =P Kenakalan yang membuatku merasa cukup, cukup nakal untuk berhenti dan mencari warna kehidupan lain di kampus. Aku sayang sama mereka: Bunga, Echa, Farida, Icha, Ketyh, Lya, dan Rani. Sebentar lagi salah satu (mungkin lebih) dari kami akan menggenapkan separuh diennya. Gak nyangka..
Cerita 4
“He tells me you’re a doctor?”
“Yeah, I work at the children clinic.”
“How is it?”
“I enjoy it. How about you?”
“I’m a student. Umm, I’m thinking of making it as my career.”
“Hahaha..”
Closing
Nothing special, pengen curhat doang ko =)
%apaan sih, G..
%ngacapruks versiku
Tips Sambut Ramadhan: Optimalisasi Ansyithah Ibadah Ramadhan
Delapan Tips Sambut Ramadhan versi dakwatuna.com (hasil ngedit):
- Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang dan kesehatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan sehingga pelaksanaan ibadah (puasa, shalat, tlawah, dan dzikir) optimal. Dari Anas bin Malik ra. berkata, Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, “ Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan).” (HR Ahmad dan Tabrani)
- Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Bukankah kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan salah satu nikmat terbesar?
- Bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: ”Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR Ahmad)
- Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan yang singkat.
- Bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan.
- Pahami fiqh Ramadhan karena setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dilandasi ilmu agar amaliah ramadhan kita benar dan diterma Allah swt.
- Kondisikan qalbu dan ruhiyah untuk pembersihan jiwa.
- Tinggalkan dosa dan maksiat.
Semoga Allah swt. menyampaikan Ramadhan kepada kita dan menyampaikan kita kepada Ramadhan. Amiin =)
Motivasi: Optimalisasi Ansyithah Ibadah Ramadhan
Sabtu, 11 Juli 2009, adalah hari pernikahan Muthia dan Fauzi. Pernikahan disiapkan jauh hari sebelumnya. Misalnya pembentukan panitia (most of them from Salman’s dormitory), konsep pernikahan, rangkaian acara, penentuan vendor-vendor pelengkap pernikahan (tempat, katering, tatarias, dekorasi, dlsb), sampai detil pergerakan pager betis (kek maen bola aja neh). Bahkan ada yang kursus dandan kilat menjelang hari-H, untuk kebahagiaan Muthi katanya. Semua itu, demi terjaminnya kesakralan ritual pernikahan (insyaallah) sekali seumur hidup yang menjadi ikatan kuat. Ikatan kuat bukan hanya antara mempelai tetapi juga antara individu dengan Allah swt. Doaku Myuth: ’Barakallahulaka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fii khair.’
Persiapan yang matang menjadi kunci sukses pernikahan. Bagaimana dengan persiapan Ramadhan yang (insyaallah) akan menaungi kita tak lama lagi? Ramadhan menghendaki adanya keinginan kuat dan persiapan matang sebelumnya, agar kebaikan-kebaikannya dapat diraih.
Kalau pernikahan jadi super spesial karena mempertaruhkan setengah dien. Landasan berpikir apa saja yang dapat memotivasi kita agar persiapan Ramadhan menjadi optimal? Kita simak bareng-bareng ya =)
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebaaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183)
”Sesungguhnya di dalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq ’alaih)
Nabi saw. bersabda, ”Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR Bukhari Muslim)
”Setiap amal anak Adam (selama Ramadhan) dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah swt. berfirman: ’Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya’.” (HR Muslim)
”Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR Bukhari Muslim)
”Orang yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR Ibn Majah, sanad hadits ini shahih)
Semoga kita menjadi golongan yang merindukan dan dirindukan Ramadhan, ”Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan).” (HR Ahmad dan Tabrani)
%Road to Ramadhan
%[modeon:=on fire]
Jabat Tangan dan Wisuda
Wisuda ITB periode Juli sudah di depan mata, sudah dekat dengan penciuman, tinggal sehasta lagi untuk dicapai, dlsb. Bu’Eu, ceLen, Opoy, Tiara, Rito, bangFai, bangIkhwan, Husni, Abdur, dan k’Hilya adalah sebagian dari wisudawan Juli ini. Begini harapan yang masBas sampaikan saat aku lulus S1, Juli setahun yang lalu:
‘Semoga kelulusan dan gelar ini mempermudah dakwah, mengokokohkan posisi di masyarakat, memperlancar rizki, memperjelas perencanaan hidup, menambah rasa syukur tanpa menimbulkan kesombongan.’
Aku juga mengharapkan hal yang sama untuk kalian =)
Cacat yang penting pada momentum wisuda adalah mushofahah antara pria dan wanita yang bukan mahram. Padahal hukumnya sudah jelas lho: haram, karena termasuk bagian yang mendekatkan kepada fahisyah. Semoga teman-teman tidak tasahul dan tarakhsuh dalam hal ini karena ’azimahnya jelas (sekali lagi: haram).
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa’: 59)
Apalagi untuk da’i kampus, duuhhh.. mushofahah itu suatu yang sangat aib dan ’urf yang tidak terpuji dari sebagian orang.
”Wahai orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As-Shaff: 2-3)
Tapi.. kenapa sih mushofahah ini diharamkan? Berikut adalah beberapa hadits pendukung =)
”Rasulullah saw. bersabda kepada wanita (yang hendak hijrah dan berbai’ah setelah diuji): ’Aku telah membai’ahmu secara lisan.’ Dan tidak, demi Allah, tangan Rasul saw. tidak menyentuh tangan wanita dalam bai’ah. Apa yang dibai’ahkan kepada mereka hanyalah perkataannya.” (HR Bukhari)
“Dari Abdillah bin Amru, bahwa Rasullulah saw. tidak menjabat tangan wanita dalam bai’ah.“ (HR Ahmad)
“Rasulullah saw. bersabda, ’Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal.’“ (HR At-Tabrani, berkata imam Al-Haitsami, para perawinya shahih)
Rasululah saw. saja tidak jabat tangan dengan non muhram pada situasi penting (bai’ah). Dari baca-baca: madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali juga sepakat hukum jabat tangan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya haram. Sudah sepantasnya kita komitmen dengan hukum ini dan meneladani Rasulullah saw., sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS Al Ahzab: 21)
Semoga menjadi tadzkiroh bagi kita semua =)
Catatan:
- Permainan mencari arti kata yang dicetak miring nih, ’Siapa Cepat Dia Dapat!’ (maksudku: dapat memahami, heuheu).
- Guys, I wud do evrything to gradt on Oct!!! Banzai!!!!
- Jzk filenya, Kak!! =)
Nasihat dari Pak Pengamen
Aku punya kebiasaan mengisi waktu dengan membaca, dimanapun dan kapanpun. Buku yang sedang kubaca belakangan ini, selain novel The Choice karya Nicholas Sparks, adalah buku bertema kepemimpinan dalam Islam. Buku yang membincang nilai kepemimpinan agung dalam sejarah Islam. Aku terus membacanya sepanjang perjalanan menuju Lembang pagi ini. Tenggelam dalam dunia bacaan, seperti seorang autis. Sampai di suatu persimpangan, ada kejadian yang membuat hatiku sadar. Sebuah nasihat dari seorang pengamen tua. Bapak ini menegur ketidakpedulianku terhadap dunia luar. Selesai bernyanyi dan mengedarkan gelas plastik kosong ke dalam ruang angkutan umum, beliau menyentuhku dan berkata, “Sombong!!”.
Astagfirullah..
Sama sekali tidak ada niatku mengacuhkan beliau. Aku hanya sedang tenggelam dalam dunia bacaan.. Asiifa pak pengamen, asiifa.. Aku teringat firman Allah swt., “dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.” (Ad-Dluha: 10). Walaupun tidak menghardik secara lisan, aku takut menorehkan rasa sakit di hati beliau. Apalagi setelah kejadian itu aku hanya bisa terdiam, tanpa kata-kata. Setelah itu, mataku memanas menahan airmata..
Dosen Luar Biasa
Mengajar itu ibarat seni dan guru sebagai senimannya. Sepakat, karena saat mengajar aku mengekspresikan kepribadianku. Karyaku adalah murid-muridku yang tidak statis. Di kelas, bukan hanya transfer materi yang terjadi. Emosi, kecintaan terhadap ilmu, harapan terhadap murid, dan penghambaan kepada Allah swt. menjadi kesatuan rasa. Ilmu pengetahuan sebisa mungkin diracik menjadi informasi yang mudah dicerna. Seniman yang menjadi pusat perhatian haruslah pandai dalam membawakan materi. Bukankah vokalis lebih penting daripada lagu yang dibawakannya?
Teman, doakan ya..
Besok, Senin 22 Juni 2009, kali pertama aku mengajar sebagai dosen (status: Dosen Luar Biasa) di salah satu institusi swasta di Bandung. ’Vokalis’ ini akan membawakan ’lagu’ Kalkulus I dan Matriks&Ruang Vektor di kelas yang berbeda. Menegangkan sekali, karena belum terbiasa menghadapi kelas besar. Seperti yang ditakutkan Fajar: mengajar terlalu cepat, materi terlalu jauh, dan tidak diperhatikan. Padahal Fajar memiliki kapabilitas keilmuan dan jam terbang lebih tinggi daripada ’anak band’ yang satu ini. Aku yakin suatu saat dia akan sehebat pak Amuk dengan kecepatan lebih tinggi. Biasakan dirimu, Bro =D
Teringat nasihat indah dari kang Memen, senior Matematika, dalam mengajar:
Perbanyaklah ibadah sebelum mengajar, agar yang disampaikan lebih berisi.
[Rencana mengajar hari pertama: perkenalan, menyepakati peraturan bersama di kelas, memilih penanggung jawab kelas, menyampaikan materi dan latihan, serta memberikan tugas]
Jagalah aku dengan penjagaan terbaik-Mu, ya Rabb.
Bismillahirrahmaanirrahiim =)

Komentar Teman-Teman