Archive

Archive for the ‘artikel’ Category

Tips Sambut Ramadhan: Optimalisasi Ansyithah Ibadah Ramadhan

July 12, 2009 gantina 2 comments

Delapan Tips Sambut Ramadhan versi dakwatuna.com (hasil ngedit):

  1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang dan kesehatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan sehingga pelaksanaan ibadah (puasa, shalat, tlawah, dan dzikir) optimal. Dari Anas bin Malik ra. berkata, Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, “ Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan).” (HR Ahmad dan Tabrani)
  2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Bukankah kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan salah satu nikmat terbesar?
  3. Bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: ”Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR Ahmad)
  4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan yang singkat.
  5. Bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan.
  6. Pahami fiqh Ramadhan karena setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dilandasi ilmu agar amaliah ramadhan kita benar dan diterma Allah swt.
  7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah untuk pembersihan jiwa.
  8. Tinggalkan dosa dan maksiat.

Semoga Allah swt. menyampaikan Ramadhan kepada kita dan menyampaikan kita kepada Ramadhan. Amiin =)

Categories: artikel Tags:

Motivasi: Optimalisasi Ansyithah Ibadah Ramadhan

July 12, 2009 gantina Leave a comment

Sabtu, 11 Juli 2009, adalah hari pernikahan Muthia dan Fauzi. Pernikahan disiapkan jauh hari sebelumnya. Misalnya pembentukan panitia (most of them from Salman’s dormitory), konsep pernikahan, rangkaian acara, penentuan vendor-vendor pelengkap pernikahan (tempat, katering, tatarias, dekorasi, dlsb), sampai detil pergerakan pager betis (kek maen bola aja neh). Bahkan ada yang kursus dandan kilat menjelang hari-H, untuk kebahagiaan Muthi katanya. Semua itu, demi terjaminnya  kesakralan ritual pernikahan (insyaallah) sekali seumur hidup yang menjadi ikatan kuat. Ikatan kuat bukan hanya antara mempelai tetapi juga antara individu dengan Allah swt. Doaku Myuth: ’Barakallahulaka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fii khair.’

Persiapan yang matang menjadi kunci sukses pernikahan. Bagaimana dengan persiapan Ramadhan yang (insyaallah) akan menaungi kita tak lama lagi? Ramadhan menghendaki adanya keinginan kuat dan persiapan matang sebelumnya, agar kebaikan-kebaikannya dapat diraih.

Kalau pernikahan jadi super spesial karena mempertaruhkan setengah dien. Landasan berpikir apa saja yang dapat memotivasi kita agar persiapan Ramadhan menjadi optimal? Kita simak bareng-bareng ya =)

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebaaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183)

”Sesungguhnya di dalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq ’alaih)

Nabi saw. bersabda, ”Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR Bukhari Muslim)

”Setiap amal anak Adam (selama Ramadhan) dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah swt. berfirman: ’Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya’.” (HR Muslim)

”Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR Bukhari Muslim)

”Orang yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR Ibn Majah, sanad hadits ini shahih)

Semoga kita menjadi golongan yang merindukan dan dirindukan Ramadhan, ”Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan).” (HR Ahmad dan Tabrani)

%Road to Ramadhan

%[modeon:=on fire]

Categories: artikel Tags: , ,

Jabat Tangan dan Wisuda

July 12, 2009 gantina 1 comment

Wisuda ITB periode Juli sudah di depan mata, sudah dekat dengan penciuman, tinggal sehasta lagi untuk dicapai, dlsb. Bu’Eu, ceLen, Opoy, Tiara, Rito, bangFai, bangIkhwan, Husni, Abdur, dan k’Hilya adalah sebagian dari wisudawan Juli ini. Begini harapan yang masBas sampaikan saat aku lulus S1, Juli setahun yang lalu:

‘Semoga kelulusan dan gelar ini mempermudah dakwah, mengokokohkan posisi di masyarakat, memperlancar rizki, memperjelas perencanaan hidup, menambah rasa syukur tanpa menimbulkan kesombongan.’

Aku juga mengharapkan hal yang sama untuk kalian =)

Cacat yang penting pada momentum wisuda adalah mushofahah antara pria dan wanita yang bukan mahram. Padahal hukumnya sudah jelas lho: haram, karena termasuk bagian yang mendekatkan kepada fahisyah. Semoga teman-teman tidak tasahul dan tarakhsuh dalam hal ini karena ’azimahnya jelas (sekali lagi: haram).

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih  utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa’: 59)

Apalagi untuk da’i kampus, duuhhh.. mushofahah itu suatu yang sangat aib dan ’urf yang tidak terpuji dari sebagian orang.

”Wahai orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As-Shaff: 2-3)

Tapi.. kenapa sih mushofahah ini diharamkan?  Berikut adalah beberapa hadits pendukung =)

”Rasulullah saw. bersabda kepada wanita (yang hendak hijrah dan berbai’ah setelah diuji): ’Aku telah membai’ahmu secara lisan.’ Dan tidak, demi Allah, tangan Rasul saw. tidak menyentuh tangan wanita dalam bai’ah. Apa yang dibai’ahkan kepada mereka hanyalah perkataannya.” (HR Bukhari)

“Dari Abdillah bin Amru, bahwa Rasullulah saw. tidak menjabat tangan wanita dalam bai’ah.“ (HR Ahmad)

“Rasulullah saw. bersabda, ’Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal.’“ (HR At-Tabrani, berkata imam Al-Haitsami, para perawinya shahih)

Rasululah saw. saja tidak jabat tangan dengan non muhram pada situasi penting (bai’ah). Dari baca-baca: madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali juga  sepakat hukum jabat tangan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya haram. Sudah sepantasnya kita komitmen dengan hukum ini dan meneladani Rasulullah saw., sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS Al Ahzab: 21)

Semoga menjadi tadzkiroh bagi kita semua =)

Catatan:

  1. Permainan mencari arti kata yang dicetak miring nih, ’Siapa Cepat Dia Dapat!’ (maksudku: dapat memahami, heuheu).
  2. Guys, I wud do evrything to gradt on Oct!!! Banzai!!!!
  3. Jzk filenya, Kak!! =)
Categories: artikel Tags: ,

Sayap-sayap Pernikahan

June 21, 2009 gantina 5 comments

Islam adalah agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuhnya karena Islam rahmat bagi seluruh alam.  Pernikahan pun, yang menjadi ikatan kuat dan suci antara dua manusia, telah banyak disentuh nilai Islam. Kriteria bakal calon pendamping hidup, penyelenggaraan pesta pernikahan yang  berkah,  serta hak  dan kewajiban suami istri diajarkan dalam Islam. Pernikahan sakinah, mawaddah, warahmah akan terwujud dengan mengikuti jalan lurus ini.

Langkah pertama dalam menapaki pernikahan adalah penetapan tujuan islami. Serangkaian tindakan spesifik untuk menyelesaikan komitmen dari sebuah visi besar, cinta Allah swt.. Dalam Islam, tujuan pernikahan adalah:

1. Memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.

2. Membentengi akhlak yang luhur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Menegakkan rumah tangga islami.

4. Meningkatkan ibadah kepada Allah swt..

5. Mencari keturunan yang shalih dan shalihah.

Allah berfirman: “Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”. (An-Nahl : 72).

Niat yang lurus mengantarkan hamba pada kebahagiaan abadi yaitu kehidupan yang penuh naungan cinta Sang Maha Pengasih di dunia maupun akhirat. Perhatikan hadits berikut,

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya. Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Langkah berikutnya adalah memastikan perjalanan pernikahan selanjutnya sesuai dengan syariat Islam. Kita melakukannya dengan mempelajari dan mengaplikasikan fiqh pernikahan (yang menjembatani syariat Allah swt. dan implementasi oleh manusia), pernikahan-pernikahan agung dalam sejarah Islam, dan tuntunan pernikahan dari Rasulullah saw..

Pernikahan dengan niat yang suci dan cara yang lurus bagaikan amal dengan sayap lengkap. Sayap yang siap menerbangkannya ke sisi Allah swt. sebagai pemberat timbangan amal di akhirat kelak.

Pembelajar Sejati

April 7, 2008 gantina 3 comments
Ada satu pertanyaan yang cukup mengusik (buatku) di Sekolah Pra Nikah pekan kemarin. Saat itu kami membahas psikologi ikhwan dan akhwat. Point penting materi adalah dapat menerima perbedaaan dan tidak high-expectation. Seorang akhwat mempertanyakan cara menjaga semangat belajar dalam memahami pasangan hidup. “Cape dong..”, kata beliau.
Rumah tangga, dimana dua kekuatan dihimpun, membawa misi khusus untuk tujuan mulia, yaitu mencapai ridha Allah (it’s mine). Setengah dien inilah yang memacu aktivitas reaksi sehingga grafik fungsi kedewasaan berubah menjadi eksponensial. Mungkin distribusinya serupa dengan laju kedatangan penonton saat pintu teater tiga dibuka. Penyesuaian feromon pada masa pacing dengan pasangan hidup membentuk manusia menjadi pembelajar sejati. mengapa? Karena mencoba memaknai satu bentuk kemanusiaan adalah never ending journey. Toh manusia dipengaruhi oleh sejarah dan lingkungan. Variabel yang tidak konsisten dalam fungsi waktu. Walaupun sejarah merupakan bentuk keabadian, namun pemaknaannya bergantung pada kacamata kedewasaan.
Salah satu hal menarik dari belajar adalah ketakutan terhadapnya. Mungkin, ketakutan inilah yang menyebabkan Sistem Kebut Semalam masih diminati di kalangan pelajar dan mahasiswa (Hafiz dan kang Acung gak masuk sini, teman!). Karena belajar itu tidak hanya duduk di kelas saat kuliah atau berdiskusi di ruang MAC dengan sparing partner keilmuan. Belajar adalah poses untuk menjadi. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan tidak mampu menjadi mampu, dsb. Dalam salah satu kajian yang diadakan oleh ust. Hervy, beliau mengatakan bahwa salah satu tujuan belajar adalah untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain. Belajar, dengan berbagai mekanisme dan alat bantu, merupakan proses perpindahan ke state yang lebih baik (analog dengan state Avatar-nya Aang, jika sudah bisa dikendalikan).
Proses belajar berlangsung setiap saat. Mari optimalkan pengambilan manfaat dari proses ini dengan kesadaran penuh. Jangan berkata terlambat! Karena kita juga sedang belajar untuk tidak kehilangan harapan. Sebesar harapan orang tua untuk kesembuhan anaknya yang menderita pregorio.
Salam pembelajar, kawan!
Categories: artikel