Archive

Author Archive

Tuker Ilmu, Merajut

December 13, 2009 gantina 2 comments

Benang, Jarum, dan Meja Pendaftaran SPN

Pertama kali blajar merajut sebenarnya dari Dekeu, anak Kriya Keramik yang seaktivitas di LSS. Dengan kreatif dia ngajarin aku merajut menggunakan tangan sendiri. Mana ingat aku, pabaliut lah pokoknya. Lama berselang aku sudah lupa keinginan merajut. Lalu beberapa pekan yang lalu, aku barter ilmu dengan Yuli (serasa jaman batu, barter). Aku nemenin dia baca, Yuli ngajarin aku merajut. Galak juga ibu guru yang satu ini, hasil rajutanku didedel ulang tanpa perasaan. Huhu, tapi aku jadi inget tuh. Dasar, penganut The Power of Kepepet. Merajut ada dua tipe, istilah kerennya aku lupa. Intinya, jarum rajut ditusuk ke arah luar atau dalam. Dari sana bisa dikombinasikan sedemikian sehingga hasil rajutan sesuai dengan keinginan kita. Kalau udah lancar dasarnya, aku disarankan browsing cari pola-pola yang mudah ditiru di internet. Okay, Bu!!

Langkah Merajut

Nah, proyek pertamaku adalah tas mungil berwarna ungu yang diberi tali kecil. Pertama, aku merajut persegi panjang dan tali tipis yang panjang selama seminggu. Lalu, panjang dari persegi panjang itu dilipat tiga (ujung satunya kecil aja sebagai penutup). Pinggiran  tas dan talinya kujahit dengan jarum yang ujung lubangnya cukup untuk benang wool. Tambahkan kancing kecil di tengah tas. Tarrrraaaa, jadi deh tas mungil untuk adik kecilku. Langsung dipake lho, tasnya^^

Langkah Merajut (juga)

Proyek selanjutnya adalah syal, lebih sulit karena benangnya terdiri dari tiga helai wool (hitam, putih, dan abu). Suka pabaliut helai mana yang sekarang mesti kurajut. Belum lagi, jenis rajutannya kukombinasikan supaya hasilnya tampak berombak. Kalo ditinggal, suka lupa udah sampai tipe rajut yang mana, hihi. Seringnya sih nebak-nebak, tapi alhamdulillaah polanya masih sesuai sampai saat ini.

Buat siapa syalnya, ya… Mama, Bapak, Nde, mas Arie, kakakku, sahabat dekat, rekan kerja, atau mahasiswaku??

Syal yang terdapat kasih sayang di setiap rajutannya.

Categories: dunia putri Tags: ,

Mangkuk Cantik, Madu Manis, dan Sehelai Rambut

December 13, 2009 gantina 1 comment

Rasulullah saw. dan sahabatnya bertamu ke rumah Ali ra. Fathimah, istri Ali, menyediakan madu yang diletakkan dalam sebuah mangkuk yang cantik. Tak sengaja sehelai rambut terikut dalam mangkuk tersebut.

“Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman lebih susah dari meniti sehelai rambut.” (Abubakar)

“Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Umar bin Khattab)

“Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Utsman bin Affan)

“Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Ali bin Abi Thalib)

“Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Fathimah)

“Seorang yang mendapat taufik untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Rasulullah saw.)

“Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik; menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu; dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Jibril as.)

Aku memang tidak ada dalam jamuan itu, tidak pernah melihat secantik apa mangkuk cantik itu, tidak pernah merasai manisnya madu itu, juga tidak bisa menilai ketebalan sehelai rambut yang ikut tersaji. Kalau boleh berpendapat, menurutku, “Wanita shalihah itu lebih cantik dari mangkuk cantik; yang lebih manis dari madu adalah keihklasan; dan yang lebih sulit dari meniti sehelai rambut adalah mengamalkan ilmu.”

Kunjungan ke Bengkel Pesawat

December 13, 2009 gantina Leave a comment

Mending naik taksi sekalian!!! Mahal banget jenis angkutan yang satu itu, padahal jaraknya hanya beberapa meter. Yaaa, pengalaman pertama memang untuk dijadikan pelajaran. Pulangnya, aku memilih naik angkot sahaja (biayanya 1:6 tapi agak muter).

Jumat lalu, aku mengunjungi bengkel salah satu perusahaan penerbangan Indonesia. Berangkat Shubuh dari Bandung, rencananya langsung pulang begitu urusan selesai di sana (input data dikit, terus bebaasss). Banyak juga kegiatan disana, gerbang hanggar mulai rusuh sekitar pukul 7 pagi. Pegawai berdatangan seperti semut, mengantri untuk diperiksa memasuki hanggar. Keren lho teknologinya, dari balik ruang tunggu aku memperhatikan layar flat yang menampilkan isi tas masing-masing pegawai (nama kerennya apa ya?). Aku dan beberapa rekan menunggu pak Hari (masih muda ternyata) lumayan lama, lebih dari yang dijadwalkan. Wah, kami khawatir jadwal tidak selesai karena terpotong shalat Jumat. Tapi alhamdulillah, setelah beberapa kali pindah ruangan. Res, beres, semua urusan kami tepat sebelum adzan Dzuhur. Nah, pegawai yang shalat juga sama banyaknya dengan yang antri masuk tadi pagi. Kebanyakan mereka memakai seragam kemeja putih dan celana warna gelap. Outsourcer, kata temanku. Kebijakan yang benar, menurutku. Perusahaan mana yang mau dibebani langsung tanggung jawab untuk berbagai tunjangan pegawai tanpa ada probation dahulu. Tapi, kalau sampai lebih dari dua tahun status pegawai belum berubah sih keterlaluan. Terlebih jika gajinya masih di bawah UMR (kota Bandung itu UMRnya sekitar 1,044juta). Wah, payah betul (ngomongin perusahaan siapa ya??). Begitu keluar area bengkel, aku langsung ngacir ke terminal 1B (pilihannya 1B, 2D, atau 3) memesan tiket angkutan pemadu moda. Tadinya mau nebeng teman balik ke Bandung dari Semanggi tapi ternyata sibuk mengurus pemilu IA ITB, mungkin ini anak tangga yang sedang ditapakinya untuk mencapai mimpi berada di tataran pengambil kebijakan (Best wishes on you, deh!!). Sekitar 10 menit kemudian bis Primajasa yang kunaiki melaju meninggalkan Jakarta yang tidak pernah merasakan segarnya embun di pagi hari (komentar temanku disela-sela smsnya minta dioleh-olehi pemuda sholeh, halah… ada juga oma-oma harum minyak angin yang duduk disebelahku dan tidur sepanjang perjalanan). Walaupun lapar, tawaran traktir makan dari seorang kakak kutolak dengan halus. Lelah dan pegal-pegal badan ini bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung. Kita lihat, apa Selasa depan aku ke mesti ke Cengkareng lagi atau tidak??

Teringat nasihat pak Agung dan bu Yani, “Selamat menikmati perjuangan!!”.

Si Supri di Servis

December 13, 2009 gantina Leave a comment

“AHM itu olinya lebih encer, kurang cocok untuk motor mba. Nah, Federal ini yang lebih bagus tapi lebih mahal empat ribu, mba,” jelas mas-mas di bengkel tadi siang. Hihi, meneketehe kek begituan. Aku sih heueuh-heueuh aja minta mas Arie yang mutusin. Akhirnya, kami memilih si federal oli. Nyerpis Supri proses dan perasaan yang kurasakan mirip waktu aku pertama kali creambath di Moz5. Pertama kali sih, jadi grigo gitu takut salah langkah. Kami (Supri dan aku) melakukan hal ini:

  1. Mendaftar di front desk untuk dapat no antrian.
  2. Di’servis’ (Supri sebagai motor, aku creambath).
  3. Bayar biaya ‘servis’ di kasir.

Tapi tentu saja ada perbedaan, yaitu:

  1. Sambil nunggu Supri, aku ngerjain proyek sementara mas Arie nonton pertandingan bola.
  2. Setelah diservis, mas Arie komentar, “Mesinnya enak banget, Ka. Nih motor kayak baru aja!!”.
  3. Sementara setelah creambath, aku masuk angin.

Hahaha, dasar ndeso!!

Categories: dunia putri Tags:

Inspirasi dari Kisah Teladan

December 13, 2009 gantina 1 comment

Kisah Teladan, ‘Lima Perkara Aneh’

Abu Laits As Samarqandi, seorang ahli fiqh, bercerita bahwa ada nabi yang bukan rasul yang menerima wahyu lewat mimpi. Salah seorang nabi tersebut bermimpi mendapat perintah, “Pergilah ke barat setelah kau bangun esok pagi. Lalu lakukan, pertama makanlah apa yang engkau lihat pertama kali; kedua sembunyikan yang engkau lihat selanjutnya; ketiga terimalah; keempat jangan engkau putuskan harapan; kelima larilah engkau daripadanya.”. Keesokan hari, nabi itu keluar menuju Barat dan melihat bukit besar berwarna hitam. Walau merasa heran tetapi nabi tersebut tetap berjalan mendekati bukit untuk memakannya. Tiba-tiba bukit itu mengecil hingga seukuran roti dan rasanya manis seperti madu ketika dimakan. Barang kedua yang ia lihat adalah sebuah mangkuk emas. Mangkuk tersebut disembunyikan ke dalam lubang yang ia gali. Namun, berkali-kali ia sembunyikan mangkuk itu tetap muncul kembali. Akhirnya ia melanjutkan perjalanan lalu bertemu burung kecil yang dikejar burung elang. “Wahai nabiyullah, tolonglah aku,” mohon burung kecil. Ia menerima permohonan burung kecil dan menyembunyikannya di dalam baju. Melihat keadaan itu, elang mendekati nabi lalu berkata, “Wahai nabiyullah, aku sangat lapar dan mengejar burung itu dari pagi. Janganlah engkau patahhan harapanku dari rejekiku.”. Dia bingung karena teringat perintah keempat tapi sudah menerima untuk menolong burung kecil. Sang nabi mengambil pedang lau memotong sedikit daging pahanya untuk sang elang. Tidak lama kemudian, nabi tersebut menemukan bangkai yang sangat bau lalu segera lari karena teringat perintah kelima. Malam berikutnya, Allah memberikan penjelasan, “Pertama, yang engkau makan adalah kemarahanmu. Pada awalnya terlihat besar seperti bukit. Namun, jika bersabar dan dapat menahannya, maka marah tersebut akan terasa lebih manis daripada madu. Kedua, semua kebaikan walaupun disembunyikan akan tetap nampak. Ketiga, jangan mengkhianati amanah dari orang lain. Keempat, jika orang meminta kepadamu maka usahakanlah untuk membantunya meskipun engkau sendiri sedang berhajat. Kelima, bau busuk itu ialah ghibah maka larilah dari orang yang berkumpul menceritakan orang lain.”.

Cerita ini aku rangkum saat mengerjakan proyek semalam. Wah, subhanallaah allaahuakbar deh!! Seperti disengat kalajengking (lebay, boro-boro kalajengking lebah aja belum pernah tuh).

OOT bentar, suatu hari aku pulang naik damri DU – Jatinangor yang sesak penumpang. Sampai-sampai sepanjang perjalanan aku berdiri (tidur aja dijamin gak jatoh saking sesaknya). Jari-jari kaki kanan nih rasanya panas dan sakit seperti kesemutan. Tapi kubiarkan karena tidak mungkin melakukakan gerakan seheboh itu di dalam bis. Setiba di rumah, aku baru tahu kenapa kesemutan diberi nama kesemutan. Ternyata ada beberapa ekor semut yang menggigiti kaki kananku.

Back to the story, aku ngerjain proyek ini sambil marah-marah. Kesal karena amanah yang kutitipkan dikhianati. Namun, tidak dapat mengungkapkan kemarahan itu karena obyeknya sendiri. Subhanallaah, inspiring banget nih cerita. Benar memang, kemarahan yang tidak ditahan akan menimbulkan penyesalan. Coba tanya sama yang udah punya anak, betapa menyesalnya orangtua setelah memarahi anak mereka. Inspirasi kedua, jangan mengkhianati amanah yang sudah kau terima. Ini juga nasihat yang membuatku teringat pada setumpuk pekerjaan yang belum kurapihkan hingga malam ini. Hm, hampir tidak ada peluang Allah meminta malaikat Mikail untuk merentangkan sayapnya menahan matahari berputar. Memang aku ini seberapanya Ali bin Abi Thalib sih?? So little time so much to do, ceuk ceunah mah. Sementara ka’Bas, meragukan ketahanan fikriyahku jika aku bergabung dengan barisannya saat kuliah S1 dulu.

OOT lagi. Pernyataan yang sangat menyinggung egoku, ka. Meragukan kemampuanku tanpa memberi kesempatan untuk membuktikan apapun??

Jangan mengkhianati amanah yang orang lain berikan padamu, huff.. ‘walikota’ Bandung nih. Asyik juga ide yang kudengar dari Syihan ketika rapat Evaluasi semester II Salman pagi tadi, “Kalau tidak dinikmati ya tidak nikmat, teh.”. Ketiga, bantulah orang lain walau engkau sedang punya hajat. Astagfirullaah, aku telah menolak dua permintaan dari sahabatku dalam dua pekan ini (dalam kepanitiaan formal dan untuk kepanitiaan pernikahan). Mama aja sampai mengingatkan, “Lho, kenapa gak bantuin, Ka? Gak enak loh sama dia…”. Dilematis, sama dilemanya ketika menunggu keputusan rekruitmen yang sudah jelas tidak berkah perusahaannya. Jungkir balik memikirkan antara harapan membanggakan keluarga dan  laknat Allah (jelas banget ya yang seharusnya dipilih, cek ayat-ayat awal surat Al Ankabut), alhamdulillaah Allah mempermudah semua.

OOT (lagi?). Temanku (berbeda dengan dua sebelumnya) terlalu intervensi pada kehidupan pribadiku. Okay, saling mengingatkan karena Islam telah mengikat kami. Ojek lah, kerudung lah, pilihan hidup lah (shuuuuttttt, jangan komen balik okay!). But, hey… gak semuanya lo mesti tau kan?? Dan memang gak semuanya lo tau, iiihh (kesel tanpa marah ModeOn, ini nih metode melampiaskan kekesalan tapi gak berani langsung ke orangnya, hihi). Jazakumullaah khair katsir, eniwei. Karena telah mengingatkan aku untuk meningkatkan ke-wara’-an =D

Desember ini aku ingin fokus pada apa yang lebih dahulu diamanahkan padaku dan trauma pada kepanitiaan sebelumnya membuatku ‘tega’ mengatakan tidak pada mereka berdua. Huhu, apalah awak ini… hanya seorang Gantina Rachmaputri yang bahkan belum bisa mengeja makna keshalihan-hakiki.

Guys, Kisah Teladannya inspiring abizzz!!! Like this, deh =P

Categories: kisah teladan Tags:

Apa yang Kau Pikirkan?

November 26, 2009 gantina 1 comment

Aku sedang berpikir tentang hujan di luar ruangan ini dan halilintar yang sesekali menyapa. Pasti dingin tanpa jaket merah ini di luar. Riuh rintik hujan beradu dengan sayup ceramah ba’da Ashar yang keluar dari pengeras suara mesjid Salman. Kutengok ke kiri meja, sahabatku sedang tenggelam dalam bacaan yang memadai diri dalam mengurus sang buah hati. Tebakanku, sebentar lagi pasangan suami istri ini akan dikaruniai momongan lagi. Satu jiwa menawan yang akan menghiasi dunia dengan warnanya.Sementara di belakang, sahabatku yang lain tengah berharap reda menjelang. Hari sudah terlalu sore untuk dilalui di balik meja kerja.

Lamunanku dihentikan pintu yang terbuka. Sepasang mata imam menawarkan selaksa kebaikan. Kuterima dengan hati terbuka. Lagipula siapa yang mampu menolak kebaikan dari sang imam? Namun aku kembali berpikir.. Atas nama apa langkah-langkah kaki terasa ringan sampai disini?  Atas nama apa rela melalui ribuan kilometer untuk menjaga sesama? Atas nama apa paparan ini berubah dari lamunan jadi torehan tinta?

Atau belajar mencintai memang tak semudah memahami jutaan bintang di langit malam?

Hmmm, apa yang kau pikirkan saat kita berbincang siang lalu?

I Love You

November 26, 2009 gantina Leave a comment

Gan gw pengen ketemu lu bsk!

gan gw pengen lu peluk gw!

gw butuh lu!

 

Alhamdulillaah, akhawat yang sms itu. Mendengar, Membesarkan Hati, dan Memberi Solusi-lah yang disarankan seorang kakak. Yaah, tepat sekali. Kami menghabiskan siang bersama, bertukar kata tentang harap dan cemas. Saling mengobati dalam luka dan ikut mengucap hamdalah untuk tetes bahagia.

**, I love you.

..walau cinta tak harus memiliki..

Mawar Hitam

November 26, 2009 gantina 2 comments

Mawar Hitam

 

Hihi, blogwalking dan gak sengaja liat foto ini.

..ditulis saat rumput basah terlihat dari meja kantor.

Categories: dunia putri Tags:

Horee, Passport-ku Selesai!!!

November 24, 2009 gantina 6 comments

‘Na, ambil passport ke kantor ya,’ ujar ust. Hervi, Direktur Salman Tour and Travel.

‘Siap, ust,’ ujarku.

 

Subhanallaah, Dia memberi kemudahan dalam mengurus passportku melalui ust. dan tim. Saat antri foto dan wawancara di kantor imigrasi, aku baru tahu bahwa proses pembuatan passport belibet. Sekilas kulihat, permasalahan itu timbul karena nepotisme, sarana minim, dan sistem antrian yang kacau. Nepotisme, entah kenapa mba-mba yang pakai celana pendek (padahal jelas dilarang) dan difoto setelah aku bisa selesai wawancara duluan. Bisa-bisanya komputer nge-hang saat akan mencetak hasil wawancaraku padahal antrian di belakang panjang. Sistem antrian kacau dapat dilihat dari pengambilan ulang nomor antrian setiap tahap pembuatan paaport dan meja layanan wawancara yang kurang. Seharusnya ada juniorku yang menghitung kinerja sistem pakai teori antrian (praktek Kapita Selekta Terapan I di kantor imigrasi).

 

Luckily…

Aku hanya butuh satu kali ke kantor imigrasi dalam proses pembuatan passport, dapat pelayanan spesial dari Salman Tour dan Travel, dan potongan harga khusus.

Alhamdulillaah =D

 

Jazakumullaahu khairan katsiiran, kak!!!

Perjalanan Pulang

November 24, 2009 gantina Leave a comment

Jendela mobil sengaja kubuka lebar, kuijinkan udara bergerak membelai jilbab lebarku. Earphone yang kupasang segera setelah keluar dari gedung World Trade Center I melantunkan lagu riang. Aku yang memandang jauh ke jalanan mengulang ingatan wawancara sebelum dzuhur tadi. Raguku untuk mengklaim ketenangan karena diwawancarai secara profesional oleh seseorang yang ternyata dekat dengan lingkunganku saat ini.

Sesungguhnya, ingin kujejak langkah dalam kesungguhan.

Sesungguhnya, ingin kuhapus kecemasan.

Sesungguhnya, penuh harap membuncahkan kehangatan dalam dada.

Hanya untuk-Mu…

Aku, yang doa pada-Mu bagai bulir air di lebatnya hujan.

Aku, yang tatap sayu terpaling jadi binar cahaya.

Aku, yang tak akan menukar setiap rasa sakit.

Walau cinta membuat rambut memutih.

Walau cinta melukai pengorbanan.

Walau cinta salah memilih kata.

Lafaz ini berujung nama-Mu…

..walaa taqfuu maa laisa laka bihii ‘ilmun, innassam’a walbashara walfu aada kullu ulaa ika kaana ‘anhu mas uulaan..