Pak Wono mengajukan pertanyaan aneh sewaktu mewawancaraiku, “Gantina, menurutmu, apakah ada dosen yang perlu mengikuti training manajemen emosi?” Saat itu, tidak satupun nama terlintas di pikiranku. Aku jawab, “Sejauh ini, saya pikir tidak ada, Pak. Saya belum pernah terlibat konflik emosi dengan dosen di matematika.” Tapi, begitu masuk ke kelas tutorial kalkulus, aku menyadari ada satu nama yang (mungkin) pak Wono berharap aku menyebutnya. Hehehe, peace..
Sebelumnya, aku pernah memosting artikel dengan tema ‘kemarahan’. Salah satu manifestasi dari emosi negatif. Artikelnya menarik (tebak siapa yang nulis?), berupa ajakan untuk mengelola emosi negatif sehingga respon kita dapat bernilai sebagai ibadah.
Lama kemudian, setiap marah, aku selalu membuat pilihan: memaafkan atau melupakan.
Hm, perhatikan analogi berikut (ripper!!)..
Misal emosi negatif itu suatu energi. Menurut Hukum Kekekalan Energi, dia tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan tetapi hanya dapat diubah menjadi energi dalam bentuk lain.
Pada akhirnya, selalu belajar untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bentuk kemanusiaan, insyaallaah.
bagaimana cara mengubah energi negatif menjadi bentuk energi lain yg positif teh? terkadang energi itu terlalu besar dan menguasai akal, yg pada akhirnya tidak mampu lagi berpikir untuk mentransformasikannya ke dalam bentuk lain
haha, jadi keinget lagi
Energi Mekanik = Energi Potensial + Energi Kinetik = C
berarti energi negatif harus diarahkan biar ga mubazir yah
mau mubadzir gmn.. wong g bs ilang..
tibatan ngutrug wae, terus ambek-ambek-an,
“tapi, begitu masuk ke kelas tutorial kalkulus, aku menyadari ada satu nama yang (mungkin) pak Wono berharap aku menyebutnya.”
Inisialnya siapa Gan? :p
gak sopan, nyebut merk =P