Hukum Kekekalan Energi

Hukum Kekekalan Energi

Pak Wono mengajukan pertanyaan aneh sewaktu mewawancaraiku, “Gantina, menurutmu, apakah ada dosen yang perlu mengikuti training manajemen emosi?” Saat itu, tidak satupun nama terlintas di pikiranku. Aku jawab, “Sejauh ini, saya pikir tidak ada, Pak. Saya belum pernah terlibat konflik emosi dengan dosen di matematika.” Tapi, begitu masuk ke kelas tutorial kalkulus, aku menyadari ada satu nama yang (mungkin) pak Wono berharap aku menyebutnya. Hehehe, peace..

Sebelumnya, aku pernah memosting artikel dengan tema ‘kemarahan’. Salah satu manifestasi dari emosi negatif. Artikelnya menarik (tebak siapa yang nulis?), berupa ajakan untuk mengelola emosi negatif sehingga respon kita dapat bernilai sebagai ibadah.

Lama kemudian, setiap marah, aku selalu membuat pilihan: memaafkan atau melupakan.

Hm, perhatikan analogi berikut (ripper!!)..

Misal emosi negatif itu suatu energi. Menurut Hukum Kekekalan Energi, dia tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan tetapi hanya dapat diubah menjadi energi dalam bentuk lain.

Pada akhirnya, selalu belajar untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bentuk kemanusiaan, insyaallaah.

About gantina

gantina rachmaputri jauh dari kesempurnaan, namanya juga manusia. penyuka warna hitam dan hujan yang hampir jatuh ke sumur waktu masih bocah. tukang jajan, tukang nangis, tukang berantem, dan alhamdulillah cuma sampai usia 4 tahun saja jadi anak manja. hobi menebar senyum, berharap bisa jadi duta kebahagiaan (kan ga perlu bawa buah tangan klo jenguk temen yang sakit karena aku membawa keceriaan, heuheu). sampai detik ini selalu berusaha melakukan perbaikan yang kontinu, jadi fungsinya punya turunan, dengan penuh kesederhanaan. putri kecil yang punya mimpi besar, menjadi manusia yang nilai manfaatnya sangat tinggi. pengen jadi akademisi yang birokrat dan profesional dalam bekerja (loba kahayang...)

7 Responses »

  1. bagaimana cara mengubah energi negatif menjadi bentuk energi lain yg positif teh? terkadang energi itu terlalu besar dan menguasai akal, yg pada akhirnya tidak mampu lagi berpikir untuk mentransformasikannya ke dalam bentuk lain

  2. “tapi, begitu masuk ke kelas tutorial kalkulus, aku menyadari ada satu nama yang (mungkin) pak Wono berharap aku menyebutnya.”

    Inisialnya siapa Gan? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s