Kuliner Kamis lalu kali bertempat di cafe Lisung di daerah Dago Atas (ke arah Dago Pakar, daerah Cigadung). Cafe ini searah dengan The Valley dan berada di seberang Kopi Selasar (dah kebayang belon??). Dulu banget, tempat kongkow bersama teman-teman. Jangan tanya empuknya sofa dan indahnya pemandangan dari balkon lantai teratas Lisung… Harus coba sendiri, asli!! Cozy-nya itu lho, asik banget buat berlama-lama ngobrol dan menikmati penganan disana. Walau harganya tidak murah, worthy enough sebagai bayaran suasana yang dihadirkan. Priceless!! Apalagi kalo gratis, wkwkwk.
Agenda rutin buka shaum-cari ilmu-kuliner sore ini ditemani kabut tipis yang dibawa angin lewati bebukitan di Dago. Selayang pandang ke depan tersamar, hanya siluet garis-garis bukit dan pepohonan yang ditawarkan alam. Mata termanjakan nuansa hijau dedaunan. Sayang, langit biru dan cerahnya mentari tertutup hujan rintik. Hujan yang dinginnya perlahan menyentuh kaki. Lalu menghangat dalam diskusi mengenai Kematian.
Menjelang berbuka, kawan sejurusan pamit. Sementara kami menunggu adzan Maghrib yang menghalalkan Pisang Goreng Kipas, Iga Bakar Kuah, dan Kopi (apa-lah namanya, lupa) untuk dinikmati. Mushalla Lisung yang didesain naturalis (dari kayu-kayu) menjadi tempat shalat Maghrib yang bangkitkan kerinduan pada Pangalengan. Rindu baui tanah desa dan manjakan mata dengan kebun teh menghampar.
Ada tiga faktor yang menentukan kelas dari cafe/restoran, bagiku:
- Restorannya (letak, pelayanan, rasa)
- Pemandangannya (menentukan suasana, tentunya)
- Teman Seperjalanan-nya
Lisung jelas memenuhi dua poin teratas, lalu teman seperjalanannya??
“Bagaimana dengan saya?” tanya teman seperjalanku.
“Mau dijawab sesuai dengan yang ingin didengar atau yang sejujurnya?” tanyaku balik sambil bersandar di sofa karena kekenyangan.
“Keduanya, tentu,” jawabnya.
“Kenapa buku menjadi sebaik-baik teman duduk?” tanyaku lagi setelah berpikir sebentar.
“Karena selalu bertambah ilmu jika bersama buku,” jawabnya.
“Begitupun denganmu,” jawabku sambil tersenyum.
Terimakasih kang Muy, kang Nova, kang Mugni, dll karena mengajarkan hal yang sangat-berharga untuk dipraktekkan malam itu.






Terima kasih kembali..
nanti aku kasih tau pas kita makan janda idaman yaa, apa yang telah kalian ajarkan padaku^^
Subhanallah.. ibu ini kuliner terus ya, tapi ko kurus aja.. sepertinya ilmu yg masuk lebih banyak daripada makanan yang masuk^^
amiin^^
ckckckckck
kuduna judul blogna begini gan ,,,, >>>>
Setitik Nilai di Garis Kehidupan,
Sebuah Rasa Indahnya Kuliner Jalanan.
eugh, jaman sering posting resep makanan ada juga yang nyuruh ganti judul blog, haiayyyaaahhhh…..
sepakat gan, lisung punya makanan n pemandangan yang paling enak di bandung utara
. love this place a lot
. cheers,
dibandingin sama d valley dan wale juga lisung lebih oke, teh.
kalo d valley mahhhhaaallllll!!!!
kalo wale gal punya sofa seenak lisung walau harganya lebih murah ^^
makan, makan, makan dan makan..
saya sekeluarga pernah makan di lisung gan,,,,,nu aya halaman di dalemna teh nya,,,,halaman rumput2…enak. ditarktir si bapa
Neng Gagan… Neng Gagan….
Lagi berusaha “balas dendam” setelah lulus yah? he3
Klo wisata kuliner teh ngajak2 atuh…
uhuhu
teh gantinaa, ga sengaja nemu blog teteh pas nyari ttg lisung. hehehee.
Astii..
Apa kabar..?
Nuansa alam masih asri sambil nikmatin pemandangan kota bandung dari ketinggian