Pendakian Gunung Semeru (25 Desember 2009 – 1 Januari 2010)

Pendakian Gunung Semeru (25 Desember 2009 – 1 Januari 2010)

Team Summit Semeru:

Om Farid, Bang Safri, Mas Yan, Kak Oki, Dek Ali, Teh Neti, dan Gantina.

Awalnya kutolak ajakan Leni ke Semeru-Bromo-Sempuh karena bentrok dengan agenda rapat kerja Salman. Pikirku, rapat kerja pertama tidak boleh dilewatkan walaupun bisa didelegasikan. Alhamdulillaah, jadwal raker diundur menjadi tanggal 2-3 Januari 2010 sehingga bisa kualami pendakian gunung Semeru (pendakian ke Bromo dibatalkan dan tidak ikut perjalanan ke Sempuh karena jadwal yang mepet). FYI, Semeru adalah gunung tertinggi dan masih aktif di pulau Jawa sementara Sempuh banyak dipuji orang karena pantainya mirip pantai di film The Beach. Perjalanan dimulai segera setelah kuselesaikan pekerjaan (Salman, ITENAS, dan ETOS), kukantongi ijin orangtua, dan perlengkapan siap.

Jumat, 25 Desember 2010

Aku terlambat datang briefing keberangkatan karena persiapan yang tidak efisien. Aku ingat hari itu banyak agenda yang harus ditunaikan, rushed banget. Pagi hari menghadiri pembinaan Etos, siangnya menemui kang Randi memilih kartu undangan pernikahannya, setelah itu baru sempat packing padahal briefing pukul empat sore. Alhamdulillaah, Arie (sang ojek-ganteng-ku) siap mengantar ke Salman sehingga pukul lima sore sampai di basement Salman (sempat terjatuh saat berusaha mengangkat tas besar yang sepertiga berisi pakaian, sepertiga berisi sleeping bag, dan sisanya ransum). Sleebor ModeOn^^

“Weiss.. gagah banget, Gan?” tanya kak Pras saat melihat setelan PDL-jahim-tas gunungku.

“Heheh.. mau ke Semeru, kak” senyumku sambil jengah karena tidak terbiasa menggunakan celana untuk berkegiatan di Salman.

Sambil menunggu pengecekan barang di sekretariat Pembinaan Adik Salman (PAS), aku masih sempat mengambil berkas Rancangan Kegiatan dan Anggaran LMS di fotokopian di jalan Taman Sari (Hey, I just want to make sure everything okay while I took my end-year-holiday). Setelah semua perlengkapan selesai di cek, kami (minus bang Safri dan mas Yan) berangkat ke stasiun Kiaracondong. Bang Safri bergabung dengan kami di stasiun, bawaannya heboh banget. First impression-ku: menakutkan, badan gede-hitam gituh. Di stasiun, aku juga bertemu dengan Arif, pembina Asrama Putra Salman, yang mempertanyakan mahram yang menemani perjalananku (juga apa ini salah satu jalasah ruhiyahnya akhawat). Alhamdulillaah syarat perjalananku cukup walaupun ini bukan agenda jalasah ruhiyah akhawat, heuheu. Shalat Isya sebelum kereta tiba lalu rebutan tempat duduk di kereta ekonomi Kahuripan jurusan Bandung – Kediri.

Kereta berangkat pukul 20.30 WIB dari Kircon. Tak lama berdiri, kami mendapatkan tempat duduk di kereta, walaupun terpisah-pisah. Ini perjalanan pertamaku (berkereta belasan jam) lho, seru juga walau pantat gepeng kelamaan nempel di bangku. Perjalanan malam tidak dapat dinikmati, karena kereta padat dan di luar gelap. Aku langsung terlelap begitu dapat tempat duduk. Walaupun berkali-kali ke-badig orang yang lewat membawa barang.

Sabtu, 26 Desember 2010

Saat bangun untuk shalat shubuh, terjadi dilema. Shalat sambil duduk sajakah? Padahal Rasul tidak pernah mencontohkan shalat wajib dalam posisi duduk tapi kereta tidak berhenti lama di tiap stasiun yang dilewati. Setelah sampai di Bandung, kakakku bilang itu dalam kondisi yang sangat darurat jadi tak apa shalat sambil duduk.

Perjalanan selanjutnya membosankan karena seharian hanya terlihat sawah, mostly. Alhamdulillaah teman seperjalanan membuat pembicaraan yang menyenangkan. Ali memberitahu bahwa kacang tanah itu adalah buah, setelah putiknya terbuahi buahnya akan masuk ke dalam tanah (awas ya kalau dia bohong!!!). Belum lagi lucunya menyadari perubahan dialek Sunda ke Jawa dan atap rumah yang menjadi ciri khas daerah yang kami lewati. Hal indah lainnya yang tertangkap mata yaitu banyaknya kupu-kupu sepanjang perjalanan dan daun pohon tebu terbawa udara yang bergerak karena laju kereta. Oia, kami dalam proses saling mengenal saat itu, maklum sebagian baru bertemu. Tahu yang mengagetkan? Belum satupun dari kami yang pernah ke Semeru. Oh my Rabb, tidak ada pendaki senior dalam tim??

Perjalanan

Kami naik Kahuripan sampai stasiun Kertosono, dari sana kami naik kereka Dhoho ke arah Malang sampai stasiun Belimbing. Di kereta kami berbincang dengan mamah Sekar (sound like mamah Dedeh kan?). Ibu-ibu paruh baya yang religius banget (dari bahan obrolan yang beliau bawakan). Alhamdulillaah, selalu mengingatkan kami untuk meluruskan niat dalam perjalanan hidup. Melihatnya jadi teringat calon besan tanteku, hihihi. Kembali ke stasiun Belimbing, ya!! Stasiun yang punya kamar mandi bersih dan sepi ini jadi tempat istirahat sementara, kami membersihkan diri dan makan siang disana. Selanjutnya, mas Yan bergabung dan kami naik angkot sampai Tumpang. Di Tumpang, kami belanja kebutuhan makanan untuk tim dan mencarter jeep Toyota sampai ke Ranu Pani. Tumpang – Ranu Pani berjarak 35 km, dengan lebar jalan hanya dua meter jeep yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Jalanan berkabut dan mobil ugal-ugalan tidak sanggup menahan kantukku, berkali-kali kepala ini terjatuh karena tertidur. Sampai teman-teman lainnya tertawa dan memintaku mengikat kepala (ahaha). Sampai di Ranu Pani, kami segera membereskan barang di rumah salah satu penduduk dan tidur.

Ahad, 27 Desember 2010

Anggrek Liar

Pagi sekali kami bersiap untuk berangkat ke Ranu Kumbolo, semangat terlalu sampai terlupa untuk mempersiapkan sarapan cukup. Semua hanya mencicip beberapa potong roti dan teh manis. Berbeda dengan Safri yang dengan keluwesannya berhasil diberi sepiring penuh mie goreng. Perjalanan kami dimulai dari memilih dua gerbang yang bertuliskan ‘Selamat Jalan’ dan ‘Selamat Mendaki’. Kami pilih jalan mendaki, pilihan sulit ternyata (sesulit jalan dakwah ini). Baru berjalan beberapa meter saja nafasku sudah terasa sesak, lama sudah badan ini tidak berlatih. Terakhir olahraga rutin saat masih di Asrama Putri Salman dan itu sudah berlalu sekitar tiga bulan yang lalu.

Karena beban yang dibawa Safri terlalu berat, tim akhirnya terbagi menjadi dua. Safri-mas Yan-kak Farid berjalan dibelakang, sementara sisanya berjalan terlebih dahulu. Berkali-kali kami berhenti di perjalanan karena lelah, setiap kali break selalu diisi dengan minum air mineral atau makan snack. Asyiknya jika berpapasan dengan pendaki lain, kami pasti saling menyapa dan menanyakan asal kota.

‘Darimana, mas/mbak?’ tanya kami.

‘Dari keluarga baik-baik, mas/mbak,’ jawab mereka.

Track perjalanan ke Ranu Kumbolo hanya satu jalur, memudahkan  bagi pendaki pemula seperti kami. Sepanjang perjalanan hijau terlihat, di kanan maupun kiri kami. Dengan bukit di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri, kami berjalan dengan penuh kehati-hatian. Bukit yang pepohonannya lumayan padat dan tinggi.Total empat pos yang dapat dijadikan tempat beristirahat, bentuknya shelter berwarna hijau. Senang sekali jika tiba di shelter itu, melegakan karena bisa mengistirahatkan otot yang tegang. Ada satu shelter yang tidak kami jambangi karena sudah beristirahat sebelumnya, dan kami menyesal. Kenapa? Karena setelah shelter itu ada tanjakan yang luar biasa tinggi. Mukaku memerah seperti Humaira setelah sampai di puncak tanjakan. Kupikir tadinya itu adalah tanjakan Cinta, tapi setelah menanjak masih ada jungkir-balik track. Analogi nama dengan kondisi real tidak akan jauh, misalnya Tanjakan Setan di gunung Gede yang lebih cocok disebut Panjatan Setan atau Bukit penyesalan di Rinjani yang benar-benar menyesalkan. Hihihi, ternyata tanjakan Cinta dilewati setelah Ranu Kumbolo.

Setelah lima jam berjalan, akhirnya Ranu Kumbolo terlihat (sign system di Semeru menipu lho, 500 meter ternyata jauuuuhhh sekali). Danau dengan riak tenang yang menandakan kedalaman hampir 70 meter itu indah sekali. Danau yang dikelilingi bukit berpohon rindang di bagian timurnya dan padang rumput di barat memanjakan mata. Belum lagi biusan kabut yang membelai bukit berkali-kali, subhanallaah!!! Tak habis rasanya pujian pada Allah swt. membasahi bibir, alhamdulillaah. Begitu sampai di area camp, tim pendahulu langsung minta air panas ke tetangga. Haus dan lapar mendera sementara logistik masih jauh di belakang. Alhamdulillaah, balageur sesama pendaki teh. Walau terkadang bahasa Jawa pabaliut dengan bahasa Indonesia =D

Ranu Kumbolo

Kayu di atas Kumbolo

Aku dan Kumbolo

Uap Kumbolo

Setelah tim komplit, bagian logistik a.k.a porter tim mendirikan tenda dan dapur umum (tim pendahulu) mempersiapkan makan siang. Sorenya kegiatan favoritku, shalat Dzuhur-Ashar lalu tilawah atau duduk-duduk bersama menunggu Maghrib-Isya sambil menikmati permukaan danau yang mulai menguap karena perbedaan suhu. Cantik sekali danau menguap seperti permukaan air panas menunggu suhu turun. Akhirnya, kami istirahat tidur setelah makan malam selesai dan barang-barang dalam tenda dirapihkan (malam ini tidur tanpa bermimpi sedikitpun).

Senin, 28 Desember 2010

Shubuh sekali kami bangun bersiap untuk shalat, dingin menusuk tajam ke pori-pori kulit kami. Tapi tak mengurungkan niat pergi ke danau karena suasana terlalu indah untuk dilewatkan di dalam tenda.

Wudlu di Kumbolo

Fajar di Ranu Kumbolo

Pandangan temaram bersama tajamnya cuaca Kumbolo

Dihalangi kabut fajar tipis

Perlahan membelai permukaan ranu bersama gerak udara

Di atas kayu bibir ranu, perempuan berkulit pualam membuat riak-riak

Bersiap di Shubuh tanpa adzan

Setelah hari agak siang kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Perjalanan dimulai dengan Tanjakan Cinta, tinggi sampai-sampai kebingungan saat kembali nanti. Aku kembali ngeh dengan phobia ketinggian yang lama terlupakan. Biarlah nanti saja kupikirkan jalan kembali, perpendek target hari ini. Tapi setelah tanjakan yang menyesakkan dada itu terlewatkan, tinggal padang rumput luas yang menghampar. Jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu orang dengan ilalang di kanan-kiri cukup tinggi. Hal asyik yang kulakukan, berjalan sambil menutup mata dan tangan terbuka menyentuh daun ilalang yang kelabu. Setelah melewati padang ilalang, kami menjumpai hutan yang pohonnya jarang dan dipenuhi pohon rendah berbunga kuning dan ungu. Lagi-lagi, cantik!!

Track sampai ke Kalimati cukup mudah, terdiri dari hamparan padang rumput luas dan sedikit tanjakan. Kurang dari tiga jam, tim pendahulu dapat mencapai Kalimati. Kak Farid sempat manyun karena kamera yang kujanjikan diserahkan kembali di Oro-oro Ombo tidak terjadi. Bukan tidak mau, hanya kami tidak menemukan sign system Oro-oro Ombo dimana. Asifa ya akh…

Oro-oro Ombo 2

Edelweis

Oleh Oki

Matahari di antara lautan hijau kaku daunnya

Merangggas satu-satu lalu layu jadi kelabu

Sedang kaku daunnya, hitam gontai tergantung di pokok pohon

Tunggulah semusim sampai matahari menggeliat di musim semi

dan nikmatilah edelweismu

Setelah perjalanan yang banyak melewati pasir halus, kami tiba di Kalimati. Seperti biasa setelah tim komplit, kami mendirikan tenda lalu mengambil air. Air jauh diambil di Kalimati, kami harus pergi ke Sumbermani terlebih dahulu untuk mencapai mata air. Mata air yang sangat kecil kucurannya (seperti air mata ngeclak). Air yang mengucur kecil dan dingin menyegarkan itu membuat antrian pengambil air seperti kumpulan penduduk desa yang sedang nanggap layar tancap, kami duduk bersama. Jalur pengambilan mata air itu memang seperti sungai kering yang dalam, dinding sungai tampak seperti lapisan batu yang disukai mahasiswa geologi. Di area mata air, terlihat beberapa dupa yang sudah mati nyalanya. Rupanya area ini dijadikan tempat pemujaan beberapa masyarakat sekitar.

Lapisan Batu Kalimati

Menjelang malam, tim kami mengalami sedikit ketegangan. Kak Farid ingin agar semua tim cepat istirahat sementara Safri ingin semua makan malam dahulu, persiapan tenaga untuk muncak malam harinya. Disini, aku belajar keras untuk berkompromi dengan orang lain dan keadaan. Sulit ternyata, maklumlah raut wajah ini tidak bisa ditutupi jika menemui kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan. Setelah obrolan panjang dan alot, akhirnya teh Neti dan aku mempersiapkan makan malam dan bekal makan untuk muncak (roti isi mentega-meses). Sebelum tidur kunyalakan alarm jam pukul 23.30 WIB.

Selasa, 29 Desember 2010

Semalam padahal baru bisa tidur pukul 21.00 WIB tapi suasana luar sudah gaduh mempersiapkan keberangkatan ke Mahameru pukul 22.30 WIB. Akhirnya terbangun dan mempersiapkan perjalanan, perlengkapan sudah disimpan di tempat yang mudah dijangkau. Kami menjadi kloter kedua yang muncak dan berangkat pukul 23.30 WIB. Gelap, dingin, dan menegangkan!!

Di tengah perjalanan, perutku mengalami kram. Hampir aku menyerah karena sakitnya tak terkira dan tidak enak mengganggu perjalanan anggota tim lainnya. Tapi kata-kata kak Farid membakar semangat dan membuatku dapat menahan nyeri. Alhamdulillaah, sakitnya berkurang setelah perjalanan agak jauh. Setelah melewati Arcopodo, jalur berpasir dimulai. Jalur dengan kemiringan hampir 60 derajat ini memaksaku dan teh Neti merangkak di sana. Pantas saja pendaki lain membawa  tongkat khusus, perjalanan ke Mahameru yang berpasir membuat dua langkah hanya terhitung satu langkah karena pasirnya memerosokkan kaki. Jejakan kaki kami harus dalam dan kami tidak boleh menjejak batu, khawatir terkena pendaki lainnya. Berkali-kali perjalanan kami terhambat kabut yang membawa hujan kecil namun sangat dingin. Beberapa langkah maju, kami langsung beristirahat. Istirahat dengan posisi tidur di pasir, sejuk sekali. Udara sangat tipis sehingga nafas kami mudah habis dan detak jantung melaju cepat. Setelah hampir ke puncak hujan deras mulai turun, membuat tangan yang bengkak karena membantu pendakian hampir beku. Sampai di puncak, kabut menghalangi pandangan kami. Jarak pandang maksimal 7 meter ditambah hujan yang perlahan berubah jadi badai. Tim-tim yang sudah tiba di puncak hanya dapat duduk berdekatan menggigil di bawah jas hujan. Badai menerjang tanpa harapan fajar menyeruak. Menakutkan sekali membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, aku yang berharap bertambah keimanan setelah perjalanan ini menyadari betul kekuasaan Allah swt. Alhamdulillaah, masih ada yang waras dan berteriak menyuruh kami turun sebelum bisa menikmati cuaca cerah.

Kabut Membadai

Mahameru

Oleh Oki

Lautan kabut membisu membeku dalam dingin waktu lalu derit angin,

menggebu.

Padang luas membentang hanya batu dan kerikil jadi pasir lalu angin mendesir,

mengalun pelan lalu mengamuk membadai kabut.

Kami semua sepakat untuk turun dari puncak, terlalu berbahaya jika memaksakan menunggu cuaca mencerah. Limabelas menit dari puncak cuaca membaik, kaget sekali melihat jalur pendakian yang kami lakukan. It was a breath taking moment!!! Aku sudah bilang kan menderita phobia ketinggian. Wah, lemes lutut melihat kemiringan dan ketinggian Mahameru. Di beberapa tempat terpaksa menuruni jalur sambil ngesot dan dibantu oleh teman-teman. Kepeleset sedikit saja, bisa jadi wassalaam nyawa nih. Alhamdulillaah setelah beberapa saat dapat membiasakan diri dan menikmati meluncur di jalur berpasir. Pemandangan sekitar juga luar biasa, beberapa gunung terlihat dari tempat kami berdiri. Selain puncak-puncak gunung, area camp kami juga terlihat dan kami bisa menelusuri jalur pendakian Semeru. Beberapa kota ada yang terlihat, juga ada yang tertutup awan. Kami dapat melihat apa yang telah kami capai selama pendakian ini, subhanallaah.

Turun dari Puncak

Puncak 1

Puncak uy!!

Puncak 3

Aku dan Puncak

Perjalanan kembali ke Kalimati ditempuh hanya dalam dua setengah jam. Nge-track di beberapa tempat, pakai gigi netral maksudku mempercepat perjalanan pulang. Aku menikmati perjalanan pulang sampai akhirnya teringat belum shalat Shubuh. Astagfirullaah, lalai sekali kami pagi itu. Semua baru shalat setelah sampai di camp (ya kan, kak?). Setelah istirahat dan makan, kami bersegera membereskan tenda. Perjalanan ke Ranu Kumbolo menanti di depan mata.

Seperti biasa, sepanjang perjalanan kami terbagi menjadi dua kelompok. Tim porter membawa kamera, wah pasti lama sekali perjalanan mereka ditambah cedera lutut mas Yan. Seingatku bekal minum kami hanya dua botol, dan keduanya tim pendahulu yang pegang (baru sadar di tengah perjalanan, hampir sampai Oro-oro Ombo waktu itu). Alih-alih menunggu mereka, kami membuat massage in a bottle. Botol air mineral kapasitas 1.5 liter kami lepas labelnya lalu ditulisi, ‘Untuk Farid, Safri, dan mas Yan. Silakan minum’. Alhamdulillaah, pesan itu sampai sehingga menambah bekal minum mereka. Sekitar tiga jam kemudian, kami sampai di Ranu Kumbolo. Kami banyak istirahat di tenda sampai malam karena cuaca sangat dingin di luar.

Gagayaan =P

Rabu, 30 Desember 2010

Ranu Kumbolo (again)

Sarapan kami berlebihan dari sisi menu. Niatnya memang menghabiskan ransum sehingga meringankan beban tas perjalanan pulang. Alhamdulillaah perjalanan ke Ranu Pani dicapai sekitar empat jam. Kami kehujanan ketika hampir sampai di Ranu Pani. Sambil menunggu tim porter, kami makan bakso Malang, sideang di hawu salah satu rumah penduduk, dan membersihkan diri. Akhirnya, mandi juga guys!!

Sore harinya, jeep membawa kamu ke Tumpang. Subhanallah, indah sepanjang perjalanan. Kanan-kiri jalan yang lebarnya dua meter itu ternyata jurang dalam. Sampai akhirnya sampai di area penduduk yang sebagian besar rumahnya sudah termodernisasikan. Melewati daerah Gubug Klakah, kami dapat menikmati kebun apel Malang di sisi kiri dan kanan. Jarak sejauh 35 km ditempuh lebih lama dari perjalanan pergi karena beberapa kali berhenti untuk sekedar berfoto. Sesampainya di Tumpang, tim mengucapkan perpisahan. Oki, Ali, teh Neti, dan aku numpang tidur ke Asrama Etos Malang. Sementara Safri, kak Farid, dan teman-teman Palada ke hotel karena akan meneruskan perjalanan ke Sempuh. Mas Yan, berangkat ke Surabaya sendirian.

Angkot di Malang asyik juga, jauh-dekat hanya dua ribu lima ratus. Di depan gang, Habib (elang jaya 07) sudah menunggu kami. Setelah mengantar akhawat ke asrama putri dan meletakkan barang di asrama ikhwan, mereka menjemput kami untuk makan malam. Makan malam khas Malang, kata Habib. Kami semua makan Lalapan Ayam dan minum es teh manis. Malamnya, teh Neti dan aku tidur di kamar Yuli (elang jaya 08) dan aku bermimpi Iin memakai cadar (entahlah, mungkin hanya bunga tidur saja).

Kamis, 31 Desember 2010

Terpikir untuk jalan-jalan ke UniBraw sejenak tapi ternyata Oki dan Ali memutuskan untuk berangkat ke Kediri pagi sekali. Mereka dan Habib menjemput teh Neti dan aku sebelum pukul tujuh pagi. Singgah di Kediri pun hanya sempat menikmati Nasi Rawon dan istirjahat di mesjid dekat stasiun. Mesjid yang aneh karena bukannya melarang rokok tapi larangan yang ada adalah menghisap rokok ilegal (beda sama Salman). Pukul tiga kami harus segera berangkat naik kereta ekonomi Kahuripan ke Bandung. Akhirnya kami pulang^^

Perjalanan pulang lebih asyik lho!! Karena kami ke arah Barat, perubahan langit senja terlihat. Di barat jauh, warna langit bermacam-macam. Di sebelah kiri cenderung ungu-pink sementara kanan membiru. Matahari yang malu-malu menutup hari juga jadi objek menarik untuk diperhatikan. Indah sekali sore itu. Keramaian menyambut pergantian tahun mulai dirasa di luar kereta. Bunyi petasan sesekali terdengar di udara, riuh.

Jumat, 1 Januari 2010

‘Selamat ulang tahun, Gan,’ ucapku pagi ini pada diri sendiri. Pertama kali berulang tahun di kereta nih. Kereta yang sepi dari penumpang, mungkin calon penumpang lainnya masih menikmati masa liburan yang tersisa tiga hari lagi. Berbeda dengan kondisi keberangkatan kami malam hari di 25 Desember lalu dari stasiun Kiaracondong, beberapa saat terpaksa kami habiskan dengan berdiri tidak kebagian tempat duduk karena kereta penuh sesak. Kereta yang aroma suka cita mewarnai setiap pembicaraan di pojok-pojok bangku, bersama goyangan ringan dan suara khas mengantar kami menjemput liburan akhir tahun.

Alhamdulillaah, kami sampai di stasiun Kircon sebelum jumatan tiba.

Oia, mau tau komentar kak Farid setelah seperjalanan denganku: menyenangkan, masakannya enak!

Alhamdulillaah^^

Target pendakian besar selanjutnya: Rinjani.

18 Responses »

  1. Subhanallah.. mantab gan,,
    Memang nikmat ya menikmati keindahan alam pasca berlelah-lelah.. Mungkin itu kali ya, sepertinya setiap hiking bawaannya ingin diabadikan dalam puisi setiap momen yg ada.. hehe…

    Oh ya,, slamat milad.. smoga sgala kebaikan dan keberkahan senantiasa tercurah.. :)

  2. ‘mantab gan………..’
    adalah sebuah ungkapan
    sebuah ungkapan populer dalam forum2 di dunia maya seperti kaskus dan rileks

    ‘mantab gan………..’
    adalah sebuah penghormatan
    karena kata ‘gan’ disini adalah kependekan dari ‘juragan’ yang dalam bahasa indonesia artinya ‘bos’

    ‘mantab gan………..’
    adalah sebuah kedekatan dan persaudaraan
    karena menggunakan kata ‘gan’ adalah bentuk kedekatan kita dan persaudaraan kita di dunia maya dengan seluruh anggota forum

    ‘mantab gan………..’
    nah ,,,inilah yang baru dikatakan oleh gilang inilah bahwa ‘gan’ disini adalah kependekan dari nama ‘gantina’

    ‘mantab gan………..’
    adalah
    ‘mantab gantina ……’

    met milad, semoga sukses dunia akherat.amin.saya oge.amin

  3. gan, nu tadi mah komen buat ngekomen komennya si gilang….da tadi mah belum baca isi tulisan nya….

    nih komen setelah baca isi blog nya :

    waaaahhhhh subhanallohhhhhh kerennnnn pemandangannnaaaaa. alhamdulillah…kapan nya giliran saya ka semeru…..hoooo cepatlah datang saat-saat ituuuuuu.amiiiinnnn…

    di malang angkota jauh dekat adalah 2500,
    maka di lampung angkot jauh dekat adalah 2000,
    lebih murah disini gan^^

  4. wow akhirnya dapet cerita lengkapnya, pengalaman yang tak terlupakan!!! oya di awal tulisan bahas tentang kacang tanah ya, emang semua jenis kacang, hasil dari pembuahan termasuk kacang tanah, bedanya si kacang yang ini masuk ke dalam tanah :D

  5. ‘Darimana, mas/mbak?’ tanya kami.
    ‘Dari keluarga baik-baik, mas/mbak,’ jawab mereka.

    hahay,, itu percakapan beneran gan?

  6. wah ‘mantab Gan’,,salutlah ama petualang and tulisannya,,
    petualang yang sangat seru dikemas dalam tulisan yang ringan dibaca dan penceritaan kejadian yg runut serta penggeambaran lokasi yang cukup detail membawa si pembaca hayut dalam imajinasi serasa ikut berpetualang,,Mantaps Gan,,really like dia,,
    gmn Gan,seru bangetkan naek kereta ekonomi???
    oiya bagi dong trip n trik bikin tulisan perjalanan kyk gni,,tulisan yg bisa runut,penggambaran lokasi cukup mewakili dan menyentuh feel pembaca,,trus biasany buku novel apa yg km baca shg dapet gaya penulisannya kyk gni,,(baik yg english dan indonesia),,dtunggu fren,,
    jazakillah khoir,,

    • ini salah satu caraku mengingat (maklum pelupa), membayangkan kembali perjalanan dan melihat catatan kecil hal-hal yang patut disampaikan. novel-novelnya nicholas spark mungkin^^

  7. pengen banget pendakian ke gunung semeru, ulang tahun disana, tanggal 01 januari ulang tahun saya, ingin rasanya merayakan malam tahun baru di puncak mahameru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s