Berdamai dengan Hatimu, Put?
Angkutan umum dengan trayek Kalapa-Dago melaju pelan. Bapak supir memandang awas sisi jalan, berharap lambaian tangan penumpang terlihat olehnya. Sesekali dia menginjak pedal rem di persimpangan jalan dan gang, memicingkan mata menghadapi kegelapan jalan. Di dalamnya, Putri duduk bersandar pada jendela. Matanya menyiratkan kemarahan, kekesalan, dan kesedihan sekaligus. Emosinya campuran antara mata hampir berair dan mulut ingin memaki. Semua bertambah kacau karena bau badan tidak sedap (kemungkinan besar tidak mengganggu penumpang lain karena Putri memakai jaket nenek) karena belum mandi sore.
{mulai gak penting..}
Setelah tegukan terakhir Birdy Kopi Susu yang dibelinya di RS Boromeus masuk ke tenggorokan, ingatan Putri mulai menapaki langkah-langkahnya hari ini. Terlambat ke kantor karena kelamaan menonton kartun Sponge-Bob Squarepants dan beli eskrim Campina Choco Chip untuk konsumsi mentoring, mendadak single-fighter di perpisahan mentoring karena tugas kuliah teh Tya belum rampung, hang-out with Reza sesorean, dan dipaksa merancang RKA oleh atasan. Putri meringis kesakitan akibat kaleng minuman yang dia remas. Minuman yang baru dicek kehalalannya setelah dua tegukan (dasar ceroboh, red). Dia kesal mengingat RKA yang harus dikumpulkan pukul 06.00 WIB besok. Sabtu pagi yang biasanya dihabiskan bermalas-malasan di rumah.
“Mba, sebagai manajer…blablabla…”, tegas bu Tiek.
“Sabar ya, Put…”, ujar rekan-rekannya.
“Maaf ya, aku belum memahami alur kerja di sini…”, sambung Putri.
‘Emang gw Sangkuriang?? RKA itu seharusnya hasil musyawarah bukan rekaan manajer seorang dan dikerjakan dalam waktu semalam. Sok mahiwal pisan… keong ngesot juga ngeh Jaka Sembung gak bisa main gitar!!’, rutuk Putri dalam hati.
{nyambung banget ya??}
“Ya sudah, teh. Insyaallah aku selesaikan malam ini. Laporannya saja dulu diprint dan diserahkan ke bu Tiek. Aku ngajar dulu…”, Putri menyerah pada keadaan.
Putri, akhawat yang lahir 23 tahun lalu, hanyalah wanita biasa. Dia butuh memuntahkan kegalauannya kepada seseorang atau (setidaknya) sesuatu. Walaupun dia yakin seratus persen, curhat itu belum pasti solutif.
‘Ito… gak pas deh, dia pasti ngingetin gw biar gak mempermalukan bu Eu. Tata… salah apa dia? Besok siap-siap buat ujian Anril, tega banget kalo nyapruks depan dia. Pau… mahal telp ke Palembang heuheu. Siti… pasangan week-end ini akan terganggu dengan telp gw. Bapakku… hadooh, kerjaan kok dibawa ke rumah??’ Putri hampir menyerah karena tidak berhasil menyebutkan satu nama pun yang available untuk dicurhati malam ini. Bahkan Reza yang baik hati bertanya, “Ada apa, kak?”, dinilai masih terlalu bocah untuk memahami kredibilitas Putri dipertaruhkan malam ini.
Lamunannya terganggu dengan masuknya penumpang di perempatan Dago-Sulanjana. Salah satu penumpang menghisap rokok dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara. Putri yang baru mengecek kehalalan kopi susu kalengan miliknya membiarkan mas yang duduk di belakang supir tetap menikmati rokoknya. Biasanya Putri langsung berucap, “Maaf, tolong matikan rokoknya. Asapnya mengganggu pernapasan penumpang lain, Mas.”.
‘Kafein ini sengaja diminum biar tahan melek nanti, tapi jantung bakal berdetak lebih cepat dari biasanya. Ya… menghirup sedikit nikotin akan menenangkannya,’ pikir Putri bodoh.
Emosi memang menutup kejernihan hati dan otak, membuat uratmu memerah karena asal kemarahan adalah api. Tidakkah dapat kau lihat? Matanya memerah karena marah. Tak sadar, Putri mulai bersiul pelan-pelan. Lagu ‘Melati dari Jayagiri’ yang penciptanya bawakan dengan penuh perasaan saat pelatihan tiga tahun lalu mulai mengalun di pikirannya. Menggerakkan tangan dan kakinya yang mengingat ketukan dan petikan gitar saat menghabiskan sore di Subang beberapa pekan lalu. Perlahan Putri mulai tenang.
‘Udah tugas gw!!!’, tegas Putri.
Bertepatan dengan pindahnya Putri ke angkutan umum trayek Dayeuhkolot-Kalapa, hati Putri menjadi ringan. Akhirnya, Putri melihat permasalahan ini sebagai tantangan menarik yang wajib dijawab malam ini. Sambil mengasimilasi dirinya membayangkan Sabtu pagi yang cerah dan sukses, Putri ‘bersiul’ pelan. Hati, pikiran, dan mulutnya penuh syukur karena ‘laqad khalaqnaal in saana fii kabad’-nya Allah dibarengi dengan ke-Mahabijaksana-an-Nya yang menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sangat agung.
‘Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.’ (QS Al-Insaan:29-30)

wah..wah Putri hebat… bisa melalui hari itu dengan selamat…
alhamdulillah memang^^
gan…ari putri teh saha ? kamu sendirinya? kamu sendiri kan? heuheuheu secara bahasa tulisan kamu itu keren seperti di novel2. tak seperti tullisan saya nu ngacapruk…..mungkin kamu sebetulnya bisa jadi penulis novel gan…..sungguh berat harimu itu bu manajer ibu master ,,,,,, hmmmm tapi kamu mengjadikan endingnya itu keren sekali , jadi we saya ikut terharu….lagu melati dari jayagiri itu,,,,,\hari2 di subang itu…..dan perkataan ‘udah tugas dw’ itu….dan juga terahir ayat al insaan itu…semuanya sungguh keren sekali^^ semangat ga…….(*gan ini bisa juragan bisa gantina, olehkarenanya dihijikeun we jadi juragan gantina hahahahaha)
oia ya, kan kita bareng denger abah iwan di subang tea.
terimakasih pujiannya, saya teh emang niatan bikin buku.
doakeun atuh ya!!
wow..wow.. mau bikin buku.. sok ah.. der ah.. klo udah jadi pesen satu yah, lengkap dengan tanda tangan penulisnya..
huuu….why dont u count me in?
i’ll be available for u, sist. insyaAllah
yeeeee saya ge blog saya ge mau saya bikin buku. eklusif pisan lah pokonamah! hahahaa
sok atuh padulu-dulu bikin buku, berani???