Archive

Archive for October, 2009

Post Graduate Syndrome

October 16, 2009 gantina 9 comments

“Jangan terlalu banyak berpikir,” saran temanku.

Dan gw gak perduli!!! Otak-otak gw, masalah-masalah gw, hidup-hidup gw!!!’ seruku dalam hati pada saat itu. Childish, ha?? Ben-tul (bener-betul) banget.

Hei-hei, engineer… beginilah kira-kira scientist hidup. Aku terbiasa berpikir ulang inti permasalahan (dengan menyederhanakannya), mengumpulkan sekeranjang variabel yang mempengaruhi masalah tersebut, menentukan variabel dengan tingkat pengaruh lebih dari 80% (kira-kira lah ya..), menentukan solusi, berpikir ulang proses sebelum mengambil tindakan. Tahapan proses yang panjang dan berbelit? Tidak spontan? Pragmatis (apa pula ini…)?

Ucapku (sekali lagi) dalam hati, ‘dan gw gak perduli!!!’.

Sekarang, setelah syarat-syarat wisuda selesai kusiapkan, aku membutuhkan kemampuan spontanitas-berpikir melebar(bukan mendalam)-fleksibel. Aku terlalu terikat dalam rutinitas dididik, berat rasanya membereskan meja belajar dan melihat kegiatan belajar-mengajar di kelas (pas mampir ke prodi). Meja belajar, meja (walaupun barangnya berganti dalam lima tahun) dengan suasana kura-kura (kuliahrapat-kuliahrapat) sekarang berganti feminis berbau salman. Buku pelajaran beberapa semester terakhir didaftar dan ditawarkan pada teman-teman. Pinjam bukan ngasih, siapa tahu butuh (dasar pelit! hihihi). Kangen deh: nunggu dosen di ruang belajar, ngantuk-ngantuk di kelas, belajar bareng di kortim, makan siang di lubay, dan jalan bareng temen-temen. Lima tahun lebih cukup untuk menjebakku dalam kondisi ‘nyaman’ berada di lingkungan pendidikan kampus.

Juli lalu, temanku yang lain curhat, kondisinya similar denganku saat ini. Kami punya sejarah perkuliahan yang sebelas-duabelas (a.k.a hanya nilai yang membedakan). Aku (sok bijak) bilang, “Segera temukan rutinitas baru, teman. Dirimu mengalami masa kekosongan sekarang. Masa dimana ketidakjelasan menghinggapi, tanpa tahu kapan berakhir.”

Tetettoetttttt

Alhamdulillah, dia gak bilang, “makan tuh omongan!!”

[Kasar ya nada tulisanku? ^^]

Oh, my Rabb…

Saat post-graduate-syndrome ini menderaku, angin berbisik lembut padaku, membawa pesan pelipur resah:

Ya, Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang, dan tekanan/penindasan orang lain.’ (HR Bukhari)

Senyum ya, Sedikiiiitttt aja =P

October 16, 2009 gantina 7 comments

Blaise Pascall

Percaya deh nasihat ini, ‘Jangan menunda-nunda pekerjaan!’

Aku janji menggantikan bu Nur mengajar Matematika I hari Kamis, pukul 07.00 WIB pagi. Okay, banyak orang sudah berkegiatan sepagi itu. Aku, yang mulai terbiasa dengan jadwal mengantar Iput sekolah di pagi hari, kerepotan mesti saingan dapetin kamar mandi di rumah. Mana materi belum selesai di rangkum, hadooh!!

Iya, iya… seharusnya semalam kubereskan persiapan hari ini. Bangun tidur tuh tinggal prung doang. Baju tinggal pakai, kerudung dah licin, kaos kaki ada di tempatnya, dllsb yang membuatku kencing-berlari (istilah aja kok, sueerrrrr). Eh, kalo aku kencing-berlari, muridku kek mana ya??? Gawat uy..

Huuff, capek deh sehari sebelum ngajar. Rencana pulang sebelum maghrib dicancel karena tiba-tiba kak Rully nagih sesi konsultasi persiapan pernikahannya dengan mba Awen. Bukan salahnya, tentu saja, aku memang masih di LMS dan masih sulit menolak permintaan orang. Sampai rumah, Iput minta dibacakan cerita sebelum tidur (kebiasaan baru nih). Nah, nah, aku inget belum siapin materi buat ngajar besok pas milih buku untuk dibaca malam itu. Kubujuk Iput, “Dek, kaka bacain buku Kalkulus ya? Ada cerita tentang Blaise Pascal. Seru lho!!”

Blaise Pascal lahir di Clermont, Perancis. Pada usia 12 tahun, ia mulai mempelajari geometri. Pada usia 19 tahun, ia menciptakan mesin penambahan pertama. Selain prestasi ilmiahnya, Pascal diabadikan oleh tulisan-tulisan keagamaannya.

Komentar dalam hati: aku baru belajar naik angkot sendiri pas umur 12 tahun dan baru mau diospek pas umur 19 tahun. Tertinggal jauh, ya??

By the end of the story, Iput dan aku sama-sama tertidur.

Penalaran adalah metode yang lambat dan berliku-liku dengan mana mereka yang tidak mengetahui kebenaran menemukannya. Hati mempunyai penalaran sendiri sedangkan penalaran itu tidak mengetahuinya.’ (Blaise Pascal)

Kamu Siga Nu Gelo!!!

Sist, I’m really sorry…

Kendalikan dirimu, Gan! Pesan kuat setelah aku melalui potongan di hari Selasa lalu. Kami sama-sama mengomentari rambut Neng Rifa yang liket-lucu-banget. Lalu, temanku yang sudah merit menceritakan komentar pertama saat dia dan suaminya bangun di hari pertama mereka sah sebagai suami istri.

T        : Hoooaaaahhhhh…

S        : Walah, kamu siga nu gelo!!

Catatan: T(teman) dan S(suami teman).

Aku dan lainnya spontan tertawa setelah mendengar komentar pertama suaminya itu (yang dari lubuk hatinya yang paling jujur). Komentar tentang rambut temanku yang super gimbal. Sampai temanku melanjutkan ceritanya, “Aku langsung nangis sejadi-jadinya abis dikomentarin kayak gitu…”

Astagfirullah… salah gw ngakak lebay. Selain gak sopan, bisa-bisa kotak ketawa gw kering dan gak bisa dipake lagi (Spongebob Squarepants serial mana ya???)

Begitu aku dan seorang kawan ingat kriteria akhawat yang diinginkan seorang ikhwan, “wajib berambut lurus, teh,” nyengir menghiasi bibir.

Sampai sekarang, suka senyum sendiri kalo inget sore itu…

Sekali lagi, asifa ya ukht^^

Berdamai dengan Hatimu, Put?

October 16, 2009 gantina 8 comments

Angkutan umum dengan trayek Kalapa-Dago melaju pelan. Bapak supir memandang awas sisi jalan, berharap lambaian tangan penumpang terlihat olehnya. Sesekali dia menginjak pedal rem di persimpangan jalan dan gang, memicingkan mata menghadapi kegelapan jalan. Di dalamnya, Putri duduk bersandar pada jendela. Matanya menyiratkan kemarahan, kekesalan, dan kesedihan sekaligus. Emosinya campuran antara mata hampir berair dan mulut ingin memaki. Semua bertambah kacau karena bau badan tidak sedap (kemungkinan besar tidak mengganggu penumpang lain karena Putri memakai jaket nenek) karena belum mandi sore.

{mulai gak penting..}

Setelah tegukan terakhir Birdy Kopi Susu yang dibelinya di RS Boromeus masuk ke tenggorokan, ingatan Putri mulai menapaki langkah-langkahnya hari ini. Terlambat ke kantor karena kelamaan menonton kartun Sponge-Bob Squarepants dan beli eskrim Campina Choco Chip untuk konsumsi mentoring, mendadak single-fighter di perpisahan mentoring karena tugas kuliah teh Tya belum rampung, hang-out with Reza sesorean, dan dipaksa merancang RKA oleh atasan. Putri meringis kesakitan akibat kaleng minuman yang dia remas. Minuman yang baru dicek kehalalannya setelah dua tegukan (dasar ceroboh, red). Dia kesal mengingat RKA yang harus dikumpulkan pukul 06.00 WIB besok. Sabtu pagi yang biasanya dihabiskan bermalas-malasan di rumah.

“Mba, sebagai manajer…blablabla…”, tegas bu Tiek.

“Sabar ya, Put…”, ujar rekan-rekannya.

“Maaf ya, aku belum memahami alur kerja di sini…”, sambung Putri.

Emang gw Sangkuriang?? RKA itu seharusnya hasil musyawarah bukan rekaan manajer seorang dan dikerjakan dalam waktu semalam. Sok mahiwal pisan… keong ngesot juga ngeh Jaka Sembung gak bisa main gitar!!’, rutuk Putri dalam hati.

{nyambung banget ya??}

“Ya sudah, teh. Insyaallah aku selesaikan malam ini. Laporannya saja dulu diprint dan diserahkan ke bu Tiek. Aku ngajar dulu…”, Putri menyerah pada keadaan.

Putri, akhawat yang lahir 23 tahun lalu, hanyalah wanita biasa. Dia butuh memuntahkan kegalauannya kepada seseorang atau (setidaknya) sesuatu. Walaupun dia yakin seratus persen, curhat itu belum pasti solutif.

Ito… gak pas deh, dia pasti ngingetin gw biar gak mempermalukan bu Eu. Tata… salah apa dia? Besok siap-siap buat ujian Anril, tega banget kalo nyapruks depan dia. Pau… mahal telp ke Palembang heuheu. Siti… pasangan week-end ini akan terganggu dengan telp gw. Bapakku… hadooh, kerjaan kok dibawa ke rumah??’ Putri hampir menyerah karena tidak berhasil menyebutkan satu nama pun yang available untuk dicurhati malam ini. Bahkan Reza yang baik hati bertanya, “Ada apa, kak?”, dinilai masih terlalu bocah untuk memahami kredibilitas Putri dipertaruhkan malam ini.

Lamunannya terganggu dengan masuknya penumpang di perempatan Dago-Sulanjana. Salah satu penumpang menghisap rokok dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara. Putri yang baru mengecek kehalalan kopi susu kalengan miliknya membiarkan mas yang duduk di belakang supir tetap menikmati rokoknya. Biasanya Putri langsung berucap, “Maaf, tolong matikan rokoknya. Asapnya mengganggu pernapasan penumpang lain, Mas.”.

Kafein ini sengaja diminum biar tahan melek nanti, tapi jantung bakal berdetak lebih cepat dari biasanya. Ya… menghirup sedikit nikotin akan menenangkannya,’ pikir Putri bodoh.

Emosi memang menutup kejernihan hati dan otak, membuat uratmu memerah karena asal kemarahan adalah api. Tidakkah dapat kau lihat? Matanya memerah karena marah. Tak sadar, Putri mulai bersiul pelan-pelan. Lagu ‘Melati dari Jayagiri’ yang penciptanya bawakan dengan penuh perasaan saat pelatihan tiga tahun lalu mulai mengalun di pikirannya. Menggerakkan tangan dan kakinya yang mengingat ketukan dan petikan gitar saat menghabiskan sore di Subang beberapa pekan lalu. Perlahan Putri mulai tenang.

Udah tugas gw!!!’, tegas Putri.

Bertepatan dengan pindahnya Putri ke angkutan umum trayek Dayeuhkolot-Kalapa, hati Putri menjadi ringan. Akhirnya, Putri melihat permasalahan ini sebagai tantangan menarik yang wajib dijawab malam ini. Sambil mengasimilasi dirinya membayangkan Sabtu pagi yang cerah dan sukses, Putri ‘bersiul’ pelan. Hati, pikiran, dan mulutnya penuh syukur karena ‘laqad khalaqnaal in saana fii kabad’-nya Allah dibarengi dengan ke-Mahabijaksana-an-Nya yang menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sangat agung.

Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.’ (QS Al-Insaan:29-30)

Categories: dunia putri Tags: , ,