Nasihat dari Pak Pengamen
Aku punya kebiasaan mengisi waktu dengan membaca, dimanapun dan kapanpun. Buku yang sedang kubaca belakangan ini, selain novel The Choice karya Nicholas Sparks, adalah buku bertema kepemimpinan dalam Islam. Buku yang membincang nilai kepemimpinan agung dalam sejarah Islam. Aku terus membacanya sepanjang perjalanan menuju Lembang pagi ini. Tenggelam dalam dunia bacaan, seperti seorang autis. Sampai di suatu persimpangan, ada kejadian yang membuat hatiku sadar. Sebuah nasihat dari seorang pengamen tua. Bapak ini menegur ketidakpedulianku terhadap dunia luar. Selesai bernyanyi dan mengedarkan gelas plastik kosong ke dalam ruang angkutan umum, beliau menyentuhku dan berkata, “Sombong!!”.
Astagfirullah..
Sama sekali tidak ada niatku mengacuhkan beliau. Aku hanya sedang tenggelam dalam dunia bacaan.. Asiifa pak pengamen, asiifa.. Aku teringat firman Allah swt., “dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.” (Ad-Dluha: 10). Walaupun tidak menghardik secara lisan, aku takut menorehkan rasa sakit di hati beliau. Apalagi setelah kejadian itu aku hanya bisa terdiam, tanpa kata-kata. Setelah itu, mataku memanas menahan airmata..

waw,baru tau nih km punya blog.tahadduts bin ni’mah ya?
kritik ya…untuk kalimat “Setelah itu, mataku memanas menahan airmata..”dari cerita dia atas, tanpa kalimat ini pun intinya udah dapet! tp sy malah khwatir dengan ditambh kalimat itu, pahalanya malah ilang. air mata syukur,air mata tobat,air mata takut kpd Allah,dan lainnya sebenarnya g perlu diperlihatkan pd orang lain apalagi menceritakannya…. apa perlunya? . Sombomg itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain kan?jd terima aja kritik ini untuk sekedar bahan tafakkur.
semoga kita diberi karunia keikhlasan dan ketawadhuan….
semoga kita diberi karunia keikhlasan dan ketawadhuan….
semoga kita diberi karunia keikhlasan dan ketawadhuan….
wassalam.wr.wb
hmmmm..
dikasih gimana,,, ga dikasih juga gimana…
semoga yang dilakukan tidak termasuk kategori menghardik..
Jadi ingat perkataan Acung ke Utri beberapa tahun yang lampau:
“Makanya, Teh, jangan kebanyakan ngobrol sama buku!”
…
di makassar bahkan ada perda dilarang memberi uang kepada pengemis atau pengamen d jalan..
yang memberi dan yang menerima akan kena denda dan kurungan..
smoga benar kata kang mahmuy..
Kenapa semua kesedihan dan renungan ini berorientasi “dosa” antara personal vs pengamen..?
Seandainya renungan itu berupa:
+ konsep pengentasan kemiskinan
+ konsep pendidikan anak jalanan
+ konsep ekonomi kecil
+ konsep pengentasan mental “pengemis”
+ etc
mungkin pengemis di negara ini bisa drastis berkurang, sehingga peluang timbulnya “dosa personal” gara-gara “lupa” memperhatikan pengemis bisa mengecil
Hem… nice story… memang seperti itu kok teh pemikiran sebagian orang yang sedang mengalami kesusahan…
saya dulu juga sempat hidup menjadi seorang pengamen, pikiran orang seperti itu biasanya gak jauh jauh dari itu (minder, merasa kalau tidak ada orang yang peduli, merasa orang lain itu sombong)
dan terkadang kita juga tidak tahu apa yang mereka pikirkan, jadinya salah faham.
tips untuk mengatasinya sih cukup tersenyum dan mengangkat tangan… untuk selanjutnya itu Allah yang ngatur.