Malam makin larut, setengah bosan menyiapkan materi untuk presentasi tesis pekanan. Yup, bosan bersin-bersin; ngucek-ngucek mata yang gatal; dan ‘nyingsring’ memakai tisu paket bepergian yang cepat menipis persediannya. Untuk menambah semangat belajar, sengaja kusiapkan snack, minuman ringan, dan novel gokil (lebih berfungsi sebagai objek ’berhenti sejenak’ sih) di samping meja belajar. Snack dan minuman? Aku sepakat dengan Roni, “Makanan teman belajar itu penting, Gan! Biar ada yang masuk…”. Halah!!
Sampai akhirnya (setelah pengalih perhatian habis kugarap dan materi untuk presentasi besok rampung), aku mulai melirik bundel dari pelatihan yang diadakan Yayasan Bina Insan Shalih pemberian teman lama. Salah satu materinya tentang Komunikasi Empatik. Begini ceritanya…
Kok jadi inget siaran radio jaman SMP tiap Kamis malam ya? =P
Apa sebenarnya komunikasi empatik itu? Komunikasi empatik adalah salah satu keterampilan berkomunikasi untuk mendukung pencapaian tujuan komunikasi dari sisi persuasif maupun informatif. Empati adalah kemampuan memproyeksikan diri kepada orang lain, kemampuan menghayati orang lain, atau merasakan yang dirasakan orang lain. Dengan demikian, komunikasi empatik adalah mendengarkan dengan mata, telinga, dan hati anda untuk memahami, berintuisi, dan merasa. Mendengarkan disini adalah mendengarkan untuk mengerti bukan untuk menjawab dan mendengarkan konten pembicaraan bukan siapa yang bicara. Respon yang tepat juga menjadi kunci komunikasi empatik, berikanlah respon seperti baru pertama kali mendengarkan topik pembicaraan.
Kunci sukses mendengar:
1. Empati
2. Berhenti bicara
3. Tunjukkan respon anda
4. Pusatkan perhatian pada lawan bicara
5. Abaikan segala hal di luar topik pembicaraan
6. Pastikan lawan bicara dalam keadaan tenang
7. Ajukan pertanyaan pada saat yang tepat untuk menunjukkan perhatian
8. Lakukan pengulangan untuk memastikan frekuensi anda dan lawan bicara sama
9. Sekali lagi, berhentilah bicara!
Pembahasan ulang materi tersebut mengingatkanku pada sms dari seorang teman,
’The secret of happiness is to make others believe they are the cause of it.’
Hm, mungkin sulit untuk dipraktekkan tapi tidak mustahil (dengan doa tentunya).
‘Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.’ (QS Al Imran:159)
baiklah… berhenti berbicara…
berhenti muy… berhenti.. dengarkan… dengarkan..
terima kasih telah mengingatkan!!
“Makanan teman belajar itu penting, Gan! Biar ada yang masuk…”. Halah!!–> teori yang keren sekali,,,seriusan ieu mah,,baru denger ada teori nu kieu hehe