Berbagi dengan Laskar Matahari
Terlepas layak atau tidaknya al faqir ini memberikan tausiyah pada teman-teman, kita sama-sama berharap tulisan ini mendekatkan kita pada yang Satu.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Suatu sore di koridor akhawat mesjid Salman, Yuli dan Putri membuka majlis ilmu dengan membaca basmallaah. Yuli yang menjadi mualaf awal April tahun ini membuka buku iqra dan membacanya terbata-bata. Sementara Putri memperhatikan tempat keluar tiap huruf dan panjang-pendek bacaannya. Mereka bersama memperhatikan buku iqra jilid 2 yang laku keras di London, kota yang menjadi saksi Yuli bersyahadat. Terkadang, beberapa akhawat melirik pada kesibukan mereka berdua. Kagum, saat melihat kerasnya usaha Yuli mengucapkan ha, kho, dan ‘a. Senang, saat dapat mencontohkan pelafalan huruf dengan benar padanya. Malu, saat mengingat ketidakperdulian-ketidakperdulian Putri membaca mushaf.
Putri bertanya pada diri sendiri melihat kerasnya Yuli berikhtiar, ‘Kapan aku kehilangan rasa keingintahuan? Semangat mengubah diri dari tidak tahu menjadi mahir? Benar-benar membaca dan mendengar di majelis ta’lim (apapun)?‘
Nah, pernah merasa seperti itu temans? Saya sering melewati matakuliah hanya sekedar mendapat nilai ketika S1. Analoginya dalam kegiatan religius, ‘hanya menunaikan kewajiban tanpa melihat nilai ukhrawi’. Wah, rugi deh! Pertama, nilai belum tentu OK. Kedua, belajar hanya untuk ujian. Ketiga, kredibilitas sebagai matematikawan(ti) diragukan sangat. Keempat dan seterusnya, disesuaikan dengan imajinasi masing-masing =P
Nah (lagi), saya pikir belum terlambat untuk memperbaiki kualitas hidup kita di masa depan. Seperti salah satu judul acara yang diadakan untuk mengenang WS Rendra, ‘Kemarin dan Esok adalah Hari Ini’.
Mungkin judulnya tidak tepat, lupa.
In time, girls (and guys of course)!!
Kunjungan LSS
Dedicated for: kang Bembi, kang Ikie, kang Muy, dan kang Pria.
Sehari sebelum
LSS di sini Lingkung Seni Sunda bukan Lean Six Sigma yang seharusnya kuikuti Jumat siang. Workshop Lean Six Sigma asyik lho, hanya saja bentrok dan LMS lagi sepi, jadi tidak ada yang back-up. Pak Basri mengajarkan membaca yang tersirat dan tersurat. Re-definisi dari semua pemahaman sehingga keterukuran jadi jaminan. Pembahasan terakhir bersama beliau menyisakan peer besar untukku, dan LMS secara umum. Visi menjadi hulu dari permasalahan yang kuhadapi. Masuk akal lah^^
Sabtu, 14 November 2009. Senior-senior LSS berkunjung ke rumah. Ide awal dari kang Bambang yang kangen ketemu adik kecilku. Padahal kecil kemungkinan bertemu karena Iput masih sekolah di hari Sabtu pagi. Jadi penasaran siapa aja yang datang, mudah-mudahan ada akhawatnya^^
I got negative comments from my mother last time they visited my house, just because most of them are boys =P
BTW, aku hanya menyiapkan suguhan makanan ringan karena jam kunjungan yang nanggung. Tentu saja ditambah asumsi bahwa kalian sudah sarapan dan akan pulang sebelum makan siang. Hihi
Hari Kunjungan
Dari 10 (sepuluh) orang yang diperkirakan datang dan 5 (lima) orang yang konfirmasi kehadiran, hanya 4 (empat) orang yang benar-benar hadir. Kang Fanny mesti menyelesaikan deadline pekerjaan yang akan ditinggalkannya akhir tahun ini sehingga tidak bisa hadir. Padahal porsi makan cukup untuk 10 (sepuluh) bapak-bapak lapar yang belum sarapan, hihi. Alhasil, mabok cendol-lah kang Muy. Obrolan kami meliputi masa kini dan masa depan penuh dengan keriangan. Sampai akhirnya 2 (dua) keresek besar berisi bakwan, sambal kacang, cendol, lontong, dan gendar diboyong pergi oleh kang Pria dan kang Muy. Terimakasih sudah berkunjung^^
Sampai jumpa di awal tahun baru nanti, insyaallaah.
Komentar Pribadi
Hikmah yang besar, benar deh =P
Mengatasi Kegagalan?
Aku khawatir salah bicara pada Asrar, ‘sengaja pengen ngerjain kalian…’. Walau langsung ku-perbaiki, perubahan sinar matanya memunculkan rasa bersalah yang besar. Sebenarnya maksudku baik, kalau yang rumit saja bisa diselesaikan, lainnya tinggal ngiceup-ngiceup doang. Analoginya, soal tingkat SD bisa dikerjain sambil goreng bakwan saat soal tingkat SMA sudah dikuasai. Tetap saja, sinar mata yang berubah itu membuatku jengah. Huhu, maaf…
Dengan posisiku sekarang, di hadapan mereka tentunya, sepatutnya kujaga sikap. Minimal kurangi candaan seperti ini:
M1 : Bagian ini sulit… Ada cara cepatnya tidak?
M2 : Ya, gak ada!
G : Iya, kerjakan saja satu per satu.
M1 : Yah…
G : Eh ada ding, kerjain sambil lari-lari aja! Cepat kan?
M1&2 : Hadooh…
Belakangan, kusadari bahwa sikap kekanak-kanakan yang kubawa menjelang wisuda kemarin membuatku salah branding. Memang awak nih produk haaa??
Temans, bagaimana cara kalian mengatasi kegagalan?
Bingung, Hiks
Guys, gimana caranya upload gambar ke wordpress?
Ini sayah coba ti tatadi, ko kagak berubah yak?
Nol persen wae T_T
Post Graduate Syndrome
“Jangan terlalu banyak berpikir,” saran temanku.
‘Dan gw gak perduli!!! Otak-otak gw, masalah-masalah gw, hidup-hidup gw!!!’ seruku dalam hati pada saat itu. Childish, ha?? Ben-tul (bener-betul) banget.
Hei-hei, engineer… beginilah kira-kira scientist hidup. Aku terbiasa berpikir ulang inti permasalahan (dengan menyederhanakannya), mengumpulkan sekeranjang variabel yang mempengaruhi masalah tersebut, menentukan variabel dengan tingkat pengaruh lebih dari 80% (kira-kira lah ya..), menentukan solusi, berpikir ulang proses sebelum mengambil tindakan. Tahapan proses yang panjang dan berbelit? Tidak spontan? Pragmatis (apa pula ini…)?
Ucapku (sekali lagi) dalam hati, ‘dan gw gak perduli!!!’.
Sekarang, setelah syarat-syarat wisuda selesai kusiapkan, aku membutuhkan kemampuan spontanitas-berpikir melebar(bukan mendalam)-fleksibel. Aku terlalu terikat dalam rutinitas dididik, berat rasanya membereskan meja belajar dan melihat kegiatan belajar-mengajar di kelas (pas mampir ke prodi). Meja belajar, meja (walaupun barangnya berganti dalam lima tahun) dengan suasana kura-kura (kuliahrapat-kuliahrapat) sekarang berganti feminis berbau salman. Buku pelajaran beberapa semester terakhir didaftar dan ditawarkan pada teman-teman. Pinjam bukan ngasih, siapa tahu butuh (dasar pelit! hihihi). Kangen deh: nunggu dosen di ruang belajar, ngantuk-ngantuk di kelas, belajar bareng di kortim, makan siang di lubay, dan jalan bareng temen-temen. Lima tahun lebih cukup untuk menjebakku dalam kondisi ‘nyaman’ berada di lingkungan pendidikan kampus.
Juli lalu, temanku yang lain curhat, kondisinya similar denganku saat ini. Kami punya sejarah perkuliahan yang sebelas-duabelas (a.k.a hanya nilai yang membedakan). Aku (sok bijak) bilang, “Segera temukan rutinitas baru, teman. Dirimu mengalami masa kekosongan sekarang. Masa dimana ketidakjelasan menghinggapi, tanpa tahu kapan berakhir.”
Tetettoetttttt
Alhamdulillah, dia gak bilang, “makan tuh omongan!!”
[Kasar ya nada tulisanku? ^^]
Oh, my Rabb…
Saat post-graduate-syndrome ini menderaku, angin berbisik lembut padaku, membawa pesan pelipur resah:
‘Ya, Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang, dan tekanan/penindasan orang lain.’ (HR Bukhari)
Senyum ya, Sedikiiiitttt aja =P
Blaise Pascall
Percaya deh nasihat ini, ‘Jangan menunda-nunda pekerjaan!’
Aku janji menggantikan bu Nur mengajar Matematika I hari Kamis, pukul 07.00 WIB pagi. Okay, banyak orang sudah berkegiatan sepagi itu. Aku, yang mulai terbiasa dengan jadwal mengantar Iput sekolah di pagi hari, kerepotan mesti saingan dapetin kamar mandi di rumah. Mana materi belum selesai di rangkum, hadooh!!
Iya, iya… seharusnya semalam kubereskan persiapan hari ini. Bangun tidur tuh tinggal prung doang. Baju tinggal pakai, kerudung dah licin, kaos kaki ada di tempatnya, dllsb yang membuatku kencing-berlari (istilah aja kok, sueerrrrr). Eh, kalo aku kencing-berlari, muridku kek mana ya??? Gawat uy..
Huuff, capek deh sehari sebelum ngajar. Rencana pulang sebelum maghrib dicancel karena tiba-tiba kak Rully nagih sesi konsultasi persiapan pernikahannya dengan mba Awen. Bukan salahnya, tentu saja, aku memang masih di LMS dan masih sulit menolak permintaan orang. Sampai rumah, Iput minta dibacakan cerita sebelum tidur (kebiasaan baru nih). Nah, nah, aku inget belum siapin materi buat ngajar besok pas milih buku untuk dibaca malam itu. Kubujuk Iput, “Dek, kaka bacain buku Kalkulus ya? Ada cerita tentang Blaise Pascal. Seru lho!!”
Blaise Pascal lahir di Clermont, Perancis. Pada usia 12 tahun, ia mulai mempelajari geometri. Pada usia 19 tahun, ia menciptakan mesin penambahan pertama. Selain prestasi ilmiahnya, Pascal diabadikan oleh tulisan-tulisan keagamaannya.
Komentar dalam hati: aku baru belajar naik angkot sendiri pas umur 12 tahun dan baru mau diospek pas umur 19 tahun. Tertinggal jauh, ya??
By the end of the story, Iput dan aku sama-sama tertidur.
‘Penalaran adalah metode yang lambat dan berliku-liku dengan mana mereka yang tidak mengetahui kebenaran menemukannya. Hati mempunyai penalaran sendiri sedangkan penalaran itu tidak mengetahuinya.’ (Blaise Pascal)
Kamu Siga Nu Gelo!!!
Sist, I’m really sorry…
Kendalikan dirimu, Gan! Pesan kuat setelah aku melalui potongan di hari Selasa lalu. Kami sama-sama mengomentari rambut Neng Rifa yang liket-lucu-banget. Lalu, temanku yang sudah merit menceritakan komentar pertama saat dia dan suaminya bangun di hari pertama mereka sah sebagai suami istri.
T : Hoooaaaahhhhh…
S : Walah, kamu siga nu gelo!!
Catatan: T(teman) dan S(suami teman).
Aku dan lainnya spontan tertawa setelah mendengar komentar pertama suaminya itu (yang dari lubuk hatinya yang paling jujur). Komentar tentang rambut temanku yang super gimbal. Sampai temanku melanjutkan ceritanya, “Aku langsung nangis sejadi-jadinya abis dikomentarin kayak gitu…”
Astagfirullah… salah gw ngakak lebay. Selain gak sopan, bisa-bisa kotak ketawa gw kering dan gak bisa dipake lagi (Spongebob Squarepants serial mana ya???)
Begitu aku dan seorang kawan ingat kriteria akhawat yang diinginkan seorang ikhwan, “wajib berambut lurus, teh,” nyengir menghiasi bibir.
Sampai sekarang, suka senyum sendiri kalo inget sore itu…
Sekali lagi, asifa ya ukht^^
Berdamai dengan Hatimu, Put?
Angkutan umum dengan trayek Kalapa-Dago melaju pelan. Bapak supir memandang awas sisi jalan, berharap lambaian tangan penumpang terlihat olehnya. Sesekali dia menginjak pedal rem di persimpangan jalan dan gang, memicingkan mata menghadapi kegelapan jalan. Di dalamnya, Putri duduk bersandar pada jendela. Matanya menyiratkan kemarahan, kekesalan, dan kesedihan sekaligus. Emosinya campuran antara mata hampir berair dan mulut ingin memaki. Semua bertambah kacau karena bau badan tidak sedap (kemungkinan besar tidak mengganggu penumpang lain karena Putri memakai jaket nenek) karena belum mandi sore.
{mulai gak penting..}
Setelah tegukan terakhir Birdy Kopi Susu yang dibelinya di RS Boromeus masuk ke tenggorokan, ingatan Putri mulai menapaki langkah-langkahnya hari ini. Terlambat ke kantor karena kelamaan menonton kartun Sponge-Bob Squarepants dan beli eskrim Campina Choco Chip untuk konsumsi mentoring, mendadak single-fighter di perpisahan mentoring karena tugas kuliah teh Tya belum rampung, hang-out with Reza sesorean, dan dipaksa merancang RKA oleh atasan. Putri meringis kesakitan akibat kaleng minuman yang dia remas. Minuman yang baru dicek kehalalannya setelah dua tegukan (dasar ceroboh, red). Dia kesal mengingat RKA yang harus dikumpulkan pukul 06.00 WIB besok. Sabtu pagi yang biasanya dihabiskan bermalas-malasan di rumah.
“Mba, sebagai manajer…blablabla…”, tegas bu Tiek.
“Sabar ya, Put…”, ujar rekan-rekannya.
“Maaf ya, aku belum memahami alur kerja di sini…”, sambung Putri.
‘Emang gw Sangkuriang?? RKA itu seharusnya hasil musyawarah bukan rekaan manajer seorang dan dikerjakan dalam waktu semalam. Sok mahiwal pisan… keong ngesot juga ngeh Jaka Sembung gak bisa main gitar!!’, rutuk Putri dalam hati.
{nyambung banget ya??}
“Ya sudah, teh. Insyaallah aku selesaikan malam ini. Laporannya saja dulu diprint dan diserahkan ke bu Tiek. Aku ngajar dulu…”, Putri menyerah pada keadaan.
Putri, akhawat yang lahir 23 tahun lalu, hanyalah wanita biasa. Dia butuh memuntahkan kegalauannya kepada seseorang atau (setidaknya) sesuatu. Walaupun dia yakin seratus persen, curhat itu belum pasti solutif.
‘Ito… gak pas deh, dia pasti ngingetin gw biar gak mempermalukan bu Eu. Tata… salah apa dia? Besok siap-siap buat ujian Anril, tega banget kalo nyapruks depan dia. Pau… mahal telp ke Palembang heuheu. Siti… pasangan week-end ini akan terganggu dengan telp gw. Bapakku… hadooh, kerjaan kok dibawa ke rumah??’ Putri hampir menyerah karena tidak berhasil menyebutkan satu nama pun yang available untuk dicurhati malam ini. Bahkan Reza yang baik hati bertanya, “Ada apa, kak?”, dinilai masih terlalu bocah untuk memahami kredibilitas Putri dipertaruhkan malam ini.
Lamunannya terganggu dengan masuknya penumpang di perempatan Dago-Sulanjana. Salah satu penumpang menghisap rokok dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara. Putri yang baru mengecek kehalalan kopi susu kalengan miliknya membiarkan mas yang duduk di belakang supir tetap menikmati rokoknya. Biasanya Putri langsung berucap, “Maaf, tolong matikan rokoknya. Asapnya mengganggu pernapasan penumpang lain, Mas.”.
‘Kafein ini sengaja diminum biar tahan melek nanti, tapi jantung bakal berdetak lebih cepat dari biasanya. Ya… menghirup sedikit nikotin akan menenangkannya,’ pikir Putri bodoh.
Emosi memang menutup kejernihan hati dan otak, membuat uratmu memerah karena asal kemarahan adalah api. Tidakkah dapat kau lihat? Matanya memerah karena marah. Tak sadar, Putri mulai bersiul pelan-pelan. Lagu ‘Melati dari Jayagiri’ yang penciptanya bawakan dengan penuh perasaan saat pelatihan tiga tahun lalu mulai mengalun di pikirannya. Menggerakkan tangan dan kakinya yang mengingat ketukan dan petikan gitar saat menghabiskan sore di Subang beberapa pekan lalu. Perlahan Putri mulai tenang.
‘Udah tugas gw!!!’, tegas Putri.
Bertepatan dengan pindahnya Putri ke angkutan umum trayek Dayeuhkolot-Kalapa, hati Putri menjadi ringan. Akhirnya, Putri melihat permasalahan ini sebagai tantangan menarik yang wajib dijawab malam ini. Sambil mengasimilasi dirinya membayangkan Sabtu pagi yang cerah dan sukses, Putri ‘bersiul’ pelan. Hati, pikiran, dan mulutnya penuh syukur karena ‘laqad khalaqnaal in saana fii kabad’-nya Allah dibarengi dengan ke-Mahabijaksana-an-Nya yang menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sangat agung.
‘Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.’ (QS Al-Insaan:29-30)
Workshop on Optimal Control of Differential Equations; Day 1
Senangnya, ibu Novri membalas e-mail pendaftaran WKMIK 2009-ku. Menarik, mengingat topik tesisku yang nyerempet-nyerempet teori kontrol. Hopefully, workshop ini berguna suatu saat nanti. Ibu bilang tidak perlu persiapan khusus dalam mengahadapi workshop. Wah, mungkin untuk orang lain saran itu. Aku keteteran mengikuti penjelasan duo Thomas dari TUKL. Selain karena pelafalan Mr. End sering seperti suara orang berkumur, memang aku lupa banyak materi tentang persamaan diferensial dan metode numerik. Ada bagusnya juga jika diadakan ujian komprehensif bagi matematikawan. Terpaksa belajar deh, hihihi. Hey, I do think that.
Beruntung Thomas satunya dapat menggiring alur berpikir kelas dengan asik. He explains the outline of course, some examples in real world problem, and ended with more simple exercises. Alih-alih menyesali pola belajar yang hanya untuk menyelesaikan soal ujian, aku malah sangat menikmati saat bingung bersama peserta workshop lainnya. Seru banget, terlebih jika dapat menemukan solusi atau memahami penjelasan. Selalu berakhir dengan anggukan dan suara ‘hmm…’, diskusi panjang kami (sambil loncat-loncat cari second bahkan third opinion).
Sesi tutorial juga punya cerita sendiri. Setahun lebih gak maen Matlab, eh diminta bikin function. Halah, itu laboratorium komputer jadi gak rapih. Selain sering banget nyamperin kak Uul, hanya untuk membujuknya mampir ke mejaku; tolong cek algoritma functionodesolve-ku dung atau bertanya kenapa ‘n’-nya tidak terbaca?? Aku juga tengok-tengok ke arah Lena, cek kesesuaian algoritma. Sambil bingung, ‘i’-nya dari mana sampai mana?? Wah, duo Thomas tampak pusing =P
Nah, makanan juga jadi bagian asik dari workshop internasional (nasional juga sih). Sepekan kedepan, kebutuhan makan siangku terjamin. More over, we get two daily coffee breaks extra. Asik euy‼ Buat yang lagi kere, sering-sering ikut workshop gratis aja.
Baru hari pertama nih, tapi belum berhasil memberanikan diri bertanya:
Apa syarat $\mathbf A$ invertibel bisa di-oprek? Penyelesaian persamaan diferensial membutuhkan syarat invertibel, menjamin eksistensi balikan dari $\mathbf A$. Nah, kan ada balikan teritlak di matematika. Matriks berukuran sebarang (bukan bujur sangkar maksudku) dan determinannya nol pun ada balikan teritlaknya. Asikkan??
[Pau, lu pasti suka workshop ini]
Hoss, semangat‼‼
Alhamdulillah..
Syukur 1
Iput memang baru kelas 4 SD. Dia manja tapi mandiri, penakut tapi suka ngemong sepupu yang lebih muda, perhatian tapi sok jual mahal. Adikecilku yang super menggemaskan‼ Alhamdulillah dia berhasil menyelesaikan puasa Ramadhan sebulan penuh. Hihihi, lucu saat dia menagih hadiah yang kujanjikan jika shaumnya penuh; gaya merajuk manja-nya keluar deh.
Oh ya, akhir-akhir ini dia sering menggunakan diksi ‘mpreet’. Aku jadi inget mas Fajar, ikon sms-nya sering seperti ini: ;preet. Hehehe, Fajar malah mengira aku yang menularkan kebiasaan ini.
“Bener deh, Jar. Aku gak suka pake diksi itu, apalagi di rumah.”
Syukur 2
Seminar/Sidang berhasil kugelar Rabu 16 September 2009 lalu. Fiuhhhh… asa bucat bisul, istilah Sunda mah. Salah satu berkah Ramadhan bagiku walau tesis ini menyebabkan persaingan antara Aljabar dan Alquran. Tesis ini kukerjakan sekitar 7 (tujuh) bulan, bruto. Topik sebelumnya kandas karena pembimbing dan aku sama-sama stuck. Lha, daripada gak beres tho?? Akhirnya, browsing paper dan jatuhlah pilihan pada topik kontrol dinamik. Setelah beberapa kali mengalami perubahan, bahkan draft untuk penguji salah judul, tesisku berjudul ‘Pengontrol Dinamik yang Menstabilkan Sistem Linier’. Apaan tuh??
Nih abstraknya:
Diberikan sistem linier $\dot x(t)=\mathbf Ax(t)$ dimana matriks $\mathbf A\in\mathbb R^{n\times n}$ memiliki ruang eigen anti-stabil diperluas berdimensi $r>0$. Sistem tersebut akan diperluas menjadi sistem dinamik
\begin{align*}
\left(
\begin{array}{c}
\dot x(t) \\
\dot u(t) \\
\end{array}
\right)=\left(
\begin{array}{cc}
\mathbf A & \mathbf B \\
\mathbf C & \mathbf D \\
\end{array}
\right)\left(
\begin{array}{c}
x(t) \\
u(t) \\
\end{array}
\right).
\end{align*}
dan akan diperlihatkan konstruksi pengontrol dinamik $u(t)$ yang dapat menstabilkan sistem dinamik tersebut.
\noindent\textbf{Kata kunci}: Sistem Linier; Dekomposisi Matriks; Teori Kontrol; Teori Lyapunov.
OKTOPUS guys‼ Padahal ya, kuliah tentang teori kontrol yang kuambil hanyalah Teori Kontrol Tak Linier yang nilainya ajaib bin aneh. Subhanallah, Allah Maha Keren‼
Syukur 3
Huhuy, Deden-Galih-Risma-Ida-Dyah-aku membentuk tim degung wisuda. Insyaallah tim kami (tim 3) akan mengiringi para wisudawan bersalaman di Sabuga nanti. Lama kurindukan suasana latihan bareng teman-teman. We’ll make it, pren^^
Hohoho, banyak sebenarnya yang patut disyukuri dalam hidupku.
Format curhat seharian jika ditulis seluruhnya.
‘Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?’ (QS 55:13)
People in Sweet Crime
[ dari mana kamu? ]
[ ini laporannya ]
Lokasi : angkutan umum trayek Dago-Kalapa
Waktu : pukul 17.42 WIB
11/09/09 17:42
Wah, alhmdllh sy br kali ini melihat kumpul DS dn ketua unit yg hdr byk. 13 orang. mdh2an jd awal yg baik bg Karim
→ amiin..
→ adzankah?
11/09/09 17:54
Iya. td g keluar dr speaker. dah buka
→ otw nih, tungguin gw ya^^
Lokasi : mesjid di jalan Sumbawa
Waktu : pukul 18.15 WIB
Y : tuh dia!
G : hoi..
Guys : apa kabar lu?
G : alhamdulillah, kalian? lu ngegendutin, dot. apalagi lu, gong
P : ga bs ditelp kamu, padahal mw dijemput td
G : simcard rusak. cewe-cewe mana?
N : udah nyampe, G!
G : cabut yuk! laper gw..
F : bentar, wira ma pangeran masih di jalan.
All : (bla..bla..bla..)
→ aku lagi bareng anak-anak, boleh umumin tanggal pernikahan?
11/09/09 18:49
ah jangan malu..
![]()
klo ke nanad g pa2, ..
→ ntar aja terakhir kalo gitu
Lokasi : Ayam Bakar dan Goreng Merdeka
Waktu : pukul 19.00 WIB
11/09/09 19:00
assalaamu’alaykum.
hw fr u’v prepared ur slide?
hw many page u’v made?
→ wa’alaykumussalaam wr wb, not yet h3
11/09/09 19:03
Ckckck.. dasar..
B : keburu jam 9 nih suapan pertama..
Gt : sabar, empat antrian lagi kita
G : taraweh dulu di Ukhuwah sempet nih
→ hv u tried Ayam Bakar & Goreng Merdeka?
11/09/09 19:14
Mm not yet, whats up?
→ dine in nih
11/09/09 21:15
oalah i thought u’ll treat me :p
Lokasi : Kopi Progo
Waktu : sekitar pukul 21.30 WIB
B : pada pesen gih!
Pg : minta k***u sekalian
11/09/09 21:36
eh btw “sniffer” in indon?
→ tukang ngendus
All : (capruks sambil ngopi dan ng***u)
11/09/09 21:41
nice, gud job
→ ngetes ente??
P : btw toiletnya lu bgt, Pg. udah bedain gender, masih aja nempel larangan buang barang pribadi cewe disana
W : geli gw
All : hahhaha
Waktu : sekitar pukul 22.00 WIB
G : balik yu, kasian ade lu ngantuk gitu, nat.
N : cek dulu bill-nya
Waktu : pukul 22.30 WIB
B : tega banget, pada asik aja keluar
G : kalo kurang lu lagi yang nombok, wkwkwk
Bn : P, bayarin duit parkir gw!
B : era atuh euy!
All : maaf lahir batin, pren‼
Lokasi : jalan BKR
Waktu : sekitar pukul 22.50 WIB
Gt : tembus jalan tikus aja, pey
P : apal, kamu?
G : lupa uy
P : high risk
Lokasi : jalan Kembar
Waktu : pukul 23.00 WIB
G : thx ya
P : ok, c u
[ laporan selesai, bos ]

Komentar Teman-Teman